PILKADA 2015 : Angka Golput Terancam Naik

Senin, 28 September 2015 16:20 WIB
PILKADA 2015 : Angka Golput Terancam Naik

Sumber ilustrasi: /www.google.co.id/imglanding?q=golput&imgurl=http://www.eramuslim.com/fckfiles/image

Pilkada 2015 untuk tren penurunan partisiiasi masyarakat terjadi sejak 2005.

Harianjogja.com, JOGJA-Pada pilkada 2010 di Sleman, Gunungkidul, dan Bantul, KPU juga disorot karena sosialisasi yang mereka lakukan lemah. Akibatnya, angka partisipasi pemilih tidak sampai 80%.

Any Rohyati, Ketua KPU DIY lima tahun lalu, menyatakan tren menurunnya partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya telah terjadi sejak pilkada 2005 dan 2006 yang lalu.

“Sejak digelarnya Pilkada di Kabupaten Sleman dan Bantul pada 2005 dan 2006 untuk pilkada Kota Jogja serta Kabupaten Kulonprogo, tingkat partisipasi masyarakat menggunakan hak pilihnya cenderung menurun,” kata dia akhir pekan lalu.

Sejumlah anggota tim pemenangan paslon kala itu mengkritik KPU yang cenderung menyelenggarakan sosialisasi di wilayah perkotaan dan mengesampingkan calon pemilih di perdesaan atau pelosok.

Di sisi lain, pada penyelenggaraan pilkada terdahulu, KPU menganggap partai politik memiliki andil besar dalam menyumbang angka golput. Partai juga dituding kurang mensosialisasikan kandidatnya kepada masyarakat jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi dimulai.
Di Bantul, DPS berjumlah 685.920 pemilih. Kekhawatiran terhadap tingginya angka golput belum mengemuka. Namun, salah satu pasangan calon mengaku tidak diuntungkan dengan metode sosialiasi ala KPU.

Pada pilkada kali ini, KPU memegang peran besar dalam kampanye. Tim pemenangan paslon dilarang memasang spanduk, baliho dan umbul-umbul untuk kampanye. Pemasangan alat peraga itu sepenuhnya menjadi kewenangan KPU.

Calon bupati Suharsono mengakui, minimnya APK sangat memengaruhi elektabilitasnya. Sebagai figur baru, ia dan Abdul Halim, wakilnya, membutuhkan media pencitraan dan promosi kepada masyarakat luas.

Dia juga menilai pengawasan KPU terhadap APK itu pun masih minim. Terbukti, masih banyaknya alat peraga di beberapa titik yang rusak.

Sementara calon incumbent, Sri Surya Widati enggan berkomentar banyak mengenai kinerja KPU dan panitia pengawas pemilu (panwaslu). Ia menganggap, sejauh ini KPU sudah berusaha menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online