WADUK SERMO : Pergerakan Tubuh Bendungan Sermo Dipantau

Holy Kartika Nurwigati
Holy Kartika Nurwigati Jum'at, 02 Oktober 2015 17:20 WIB
WADUK SERMO : Pergerakan Tubuh Bendungan Sermo Dipantau

Petugas dari BBWSO DIY melakukan pemantauan pergerakan tubuh bendungan Waduk Sermo dengan menggunakan inklinometer, Kamis (1/10/2015). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)

Waduk Sermo di Kulonprogo dipantau rutin terkait pergerakan tubuh bendungan

Harianjogja.com, KULONPROGO – Pergerakan tubuh bendungan di Waduk Sermo dipengaruhi besaran volume air yang ada. Memasuki musim kemarau ini, petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) Yogyakarta melakukan pemantauan rutin tubuh bendungan di Waduk, Kamis (1/10/2015).

“Kami rutin melakukan pemantauan ini. Ada empat lokasi yang dipantau,” ujar Petugas Pengambilan Data dan Instrumentasi BBWSO Sayib.

Sayib memaparkan, pemantauan tubuh bendungan menggunakan berbagai peralatan. Salah satu alat yang digunakan yakni Inklinometer. Alat ini digunakan untuk mengukur pergerakan horizontal dari tubuh bendungan.

Sayib memaparkan, pengukuran dilakukan di beberapa lokasi. Di mana setiap lokasi memiliki instrumen yang berbeda satu sama lain. Alat tersebut dimasukkan ke dalam sebuah pipa, bentuknya seperti kabel dan dipantau dengan alat sejenis GPS.

“Kedalamannya bervariasi, di sisi timur ini, kedalamannya antara 25 meter sampai lebih dari 30 meter.  Tapi ada lokasi yang paling dalam, sekitar 50 meter, proses pemantauannya lebih lama,” jelas Sayib.

Petugas Monitoring Waduk Sermo dari BBWSO Yogyakarta Prabowo Andrianto menambahkan, pemantauan itu dilakukan rutin setiap bulan. Pengecekan pergerakan tubuh bendungan sangat penting mengingat struktur bangunan waduk yang dibangun 1996 lalu itu tidak menggunakan beton. Prabowo mengungkapkan, struktur bangunan waduk ini berupa batu berinti tanah lempung atau tanah liat.

“Jadi, struktur bangunannya sangat fleksibel. Ketika terjadi pergerakan, maka tubuh bendungan akan bergerak dan akan kembali ke posisi semula. Pergerakan itulah yang kami pantau dan diukur, seberapa besar pergerakannya,” ungkap Prabowo.

Lebih lanjut Prabowo menjelaskan, pergerakan tubuh bendungan umumnya terjadi karena musim. Di musim penghujan, volume air waduk ini akan naik. Pada kondisi ini, tampungan air yang tinggi biasanya akan membuat tubuh bendungan bergerak ke arah hilir. Namun, saat volume air rendah, maka tubuh bendungan akan kembali ke posisi semula.

“Ada banyak instrumentasi yang digunakan. Namun, sejauh pemantauan yang kami lakukan, pergerakan tubuh bangunan masih dalam kategori aman,” tandas Prabowo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online