PERTANIAN KULONPROGO : Generasi Muda Tak Tertarik Terjun ke Pertanian
Pertanian Kulonprogo dianggap tidak menarik untuk generasi muda
Harianjogja.com, KULONPROGO-Pertanian dinilai tidak cukup menarik perhatian generasi muda. Pemerintah diminta lebih tanggap dan berupaya menanamkan pemahaman bahwa pekerjaan sebagai petani sukses juga bisa menjanjikan penghasilan tinggi.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Asosiasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kulonprogo, Margiono, kepada Harian Jogja, Sabtu (3/10/2015). Dia mengaku khawatir dengan regenerasi petani. “Di daerah kami saja yang masih bertani itu rata-rata sudah 50-60 tahun,” kata Margiono.
Margiono memaparkan, kebanyakan generasi muda di wilayah tempat tinggalnya memilih bekerja di luar daerah setelah lulus SMA atau SMK karena mencari gaji yang lebih besar. Tidak jarang juga ada yang bertekad kerja di luar negeri. Sementara mereka yang akhirnya ikut menggarap sawah cenderung karena kesulitan mencari pekerjaan lain. “Seakan jadi pilihan terakhir tapi sayangnya tanpa bekal keahlian,” ujarnya.
Menurut Margiono, tidak mudah mengajak generasi muda bekerja kotor-kotoran di sawah. Padahal, dengan sistem dan teknik penanaman serta pengolahan yang tepat, hasil pertanian tidak bisa dipandang sebelah mata. Sayangnya, masih ada anggapan jika petani identik dengan kemiskinan.
“Apalagi pemerintah tidak bisa memberikan jaminan kestabilan harga. Anak muda jadi tidak mau bertani karena dianggap serba tidak pasti,” ucap pria yang juga Ketua Gapoktan Desa Sogan itu.
Margiono ingat sering diajak ke sawah oleh orang tuanya ketika masih kecil. Dia dikenalkan dengan bidang pertanian sejak dini dan terkadang juga ikut membantu menyiangi rumput. Kebiasaan itu kemudian menjadi motivasi awal menjadi petani sukses.
Dia berpendapat, saat ini mungkin tidak banyak petani yang menerapkan hal itu pada anak-anaknya. “Anak-anak saya masih TK dan SD tapi juga mulai saya kenalkan dengan diajak main ke sawah,” ungkap dia.
Margiono lalu berharap, sosok petani sukses sering dimunculkan dalam pelajaran di sekolah. Hal itu agar popularitas petani tidak kalah dengan profesi lain. “Wilayah kita agraris tapi kisah petani sukses malah jarang ditampilkan di sekolah,” tuturnya.
Sementara itu, Paikem, petani di Dusun Klegen, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, mengaku memiliki empat anak yang sebelumnya membantu dia menggarap lahan seluas 2.000 meter persegi. Namun, setelah menikah, ketiga anaknya memilih menjadi tukang bangunan. “Cuma tinggal si ragil yang membantu saya sama suami di sawah,” ungkap Paikem, Jumat (2/10/2015) lalu.
Paikem mengaku tidak bisa memaksakan anak-anaknya terus menjadi petani seperti dirinya. Namun, jika tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain, lebih baik membantu bertani dari pada menganggur. “Sekarang memang susah cari kerja,” ucap perempuan 60 tahun itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share