PILKADA SLEMAN : Terima, Raba, dan Coblos Kertasnya

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Rabu, 02 Desember 2015 20:20 WIB
PILKADA SLEMAN : Terima, Raba, dan Coblos Kertasnya

Pilkada Sleman disosialisasikan pada tuna netra

Harianjogja.com, SLEMAN- Setianingsih, 38, berjalan sambil meraba meja yang ia lewati. Tangannya kemudian disambut seorang perempuan untuk dibimbing menuju meja petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Selembar kertas suara yang diterimanya lantas ia raba untuk memastikan tidak ada bekas coblosan atau rusak.

Setelah dipastikan tak ada cacat, petugas KPPS memberikan lagi template surat suara untuk membantu mencoblos. Setianingsih lantas menuju bilik suara dan meraba lubang lingkaran masing-masing pasangan calon (paslon). Paku pada genggamannya pun mulai menembus salah satu gambar paslon yang dipilihnya.

Setianingsih adalah salah satu penyandang tunanetra yang mengikuti simulasi Pemilihan Kepala Daerah (Pulkada) Sleman di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Selasa (1/12/2015).

Ia dan puluhan temannya yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sleman, mendapat fasilitas simulasi agar dapat menggunakan hak suaranya pada 9 Desember mendatang dengan baik.

"Nyoblosnya nggak sulit. Kalau pilpres kemarin lubangnya [template] bentuk kotak, sekarang bulat," kata perempuan disabilitas asal Kecamatan Mlati.

Hanya saja saat ia masuk di bilik suara, perempuan berjilbab ini tampak kesulitan melipat kembali surat suara yang telah ia coblos. Petugas terus membimbing sampai akhir pencoblosan.

Ketua Pertuni Sleman, Hendro Saputra mengatakan, aksesibilitas tempat pemungutan suara (TPS) sudah baik meski ada TPS yang dibangun di bangunan berundak. Oleh karena itu dibutuhkan pendamping untuk membimbing pemilih disabilitas menuju bilik suara. "Pendamping boleh milih, mau pilih petugas KPPS juga bisa yang penting jangan mengarahkan pilihan," ungkap dia.

Menanggapi itu, Komisioner KPU Sleman Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, Indah Sri Wulandari mengatakan pendamping harus mengisi formulir pendamping atau form C3. Dengan surat itu pendamping dinyatakan sanggup mendampingi dan bersedia merahasiakan pilihan disabilitas dampingannya.

Lebih lanjut Indah menyampaikan bahwa simulasi bertujuan mempermudah kaum tunanetra saat mencoblos di TPS. Mereka belajar tata cara pencoblosannya. Template braille yang disediakan pun diseragamkan mengingat pada pilpres tahun 2014, antara template untuk simulasi dan saat di TPS berbeda.

"Para disabilitas kaget karena templatenya beda," tuturnya. Oleh karena itu saat ini template brailler diseragamkan.

Sebanyak 238 penyandang tunanetra telah ditetapkan sebagai DPT. Ketua KPU Sleman, Ahmad Shidqi, mengungkapkan, kemungkinan masih ada beberapa penyandang yang belum masuk DPT.

"Oleh karena itu kita mencetak 985 template atau setengah dari jumlah TPS.  Kita tidak hanya mengacu jumlah DPT [tunanetra]," kata Ketua KPU Sleman, KPU Sleman.

KPU juga mencetak 148 buku panduan dengan huruf braille untuk para penyandang tunanetra. Buku tersebut berisi profil masing-masing paslon sehingga harapannya penyandang disabilitas bisa menentukan pilihan berdasarkan visi misi yang diusung. Sementara untuk tunarungu, disediakan compact disc.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online