KONFLIK PERUMNAS BANTUL : Dianggap Tak Adil, Ini Pembelaan Kadus Pringgading

Sabtu, 05 Desember 2015 12:20 WIB
KONFLIK PERUMNAS BANTUL : Dianggap Tak Adil, Ini Pembelaan Kadus Pringgading

Konflik - Ilustrasi (britishcouncil.org)

Konflik Perumnas Bantul meresahkan warga sekitar.

Harianjogja.com, BANTUL-Beberapa spanduk bernada provokatif muncul di kawasan Dusun Pringgading, Desa Guwosari, Rabu (2/12/2015) lalu. Kasus ini terjadi lantaran warga asli merasa terganggu dengan konflik antara warga yang berada di Blok VIII Perumnas Bumi Guwosari

Saat ini, spanduk tersebut telah diturunkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) karena khawatir memperkeruh suasana jelang Pilkada Bantul 2015.

Warga dari RT 05 Blok VIII Perumnas Bumi Guwosari pun melayangkan surat kepada Kepala Dusun Pringgading, Mangku Wibowo, yang ditembuskan kepada 29 pihak terkait, mulai dari Ketua RT hingga Bupati Bantul. Dalam surat itu, dengan tegas mereka mengkritik kinerja Mangku Wibowo sebagai kepala Dusun Pringgading. Mereka menilai Kepala Dusun Pringgading itu tak adil dalam memperlakukan warganya.

Kepala Dusun Pringgading Mangku Wibowo dengan tegas membantah anggapan itu. Dijelaskannya, ia memang sengaja melakukan pemanggilan terhadap kedua belah pihak yang berkonflik, baik dari RT 05 dan RT 09, pada 22 November silam.

Pertemuan itu sengaja digelarnya dengan tujuan untuk mencari solusi guna mendamaikan keuda belah pihak yang berkonflik tersebut. “Saya memang tantang masing-masing ketua RT, bisa atau tidak mendamaikan warganya. Ternyata Ketua RT 05 malah angkat tangan,” kata Wibowo.

Sementara terkait sangkaan warga terhadap pelarangan Bedah Bumi, ia pun membantahnya. Saat warga RT 05 meninggal dunia, ketika itu bertepatan dengan Bulan Ramadhan.

“Warga itu meninggal saat siang hari. Karena itulah agak susah cari petugas penggali makamnya, terang Mangku Wibowo, Jumat (4/12/2015).

Ia khawatir, konflik berkepanjangan antara dua kelompok masyarakat itu membuat warga asli Dusun Pringgading menjadi resah. Sampai sejauh ini, ia mengaku masih bisa meredam keresahan warga.

Oleh karena itulah, pihaknya kini sudah menyerahkan konflik itu kepada pihak kepolisian dan Satpol PP. Pasalnya, ia mengaku sudah tak sanggup untuk menengahi konflik itu. “Setiap kali saya menengahi, saya pasti dituduh yang macam-macam,” keluhnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP Bantul Hermawan Setiaji menghimbau kepada kedua belah pihak untuk bisa lebih menahan diri. Ia berharap semua pihak bisa turut menjaga kondusivitis jelang Pilkada 2015.

Setelah digelarnya Pilkada 2015, pihaknya sudah berencana untuk segera memediasi kedua pihak yang berseteru tersebut. Ia mengatakan, persoalan kedua kelompok itu sudah terjadi setidaknya sejak 2005 silam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online