BANDARA KULONPROGO : Lahan Warga Penolak Bandara Berkurang 500 M2, Kok?

Rabu, 09 Desember 2015 06:20 WIB
BANDARA KULONPROGO : Lahan Warga Penolak Bandara Berkurang 500 M2, Kok?

Warga berkerumun mengawasi jalannya pengukuran dan pematokan lahan yang menjadi lokasi pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Dusun Kretek, Desa Glagah, Selasa (8/12/2015). (Holy Kartika N.S./JIBI/Harian Jogja)

Bandara Kulonprogo, warga yang menolak memperketat pengukuran.

Harianjogja.com, KULONPROGO– Warga penolak mulai merapatkan barisan untuk memperketat pengawasan pengukuran yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) pembangunan bandara. Pengetatan pengawasan dilakukan agar tidak terulang kejadian warga kehilangan 500 meter persegi lahannya karena pengukuran acak oleh petugas.

Tahapan pengukuran dan pendataan lahan lokasi pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) tinggal menyisakan tiga dusun di dua desa. Wilayah tersebut masih didominasi warga yang tidak setuju terhadap rencana pembangunan bandara baru itu, yakni Dusun Kretek dan Dusun Sidorejo di Desa Glagah, serta Dusun Kragon II di Desa Palihan.

Berdasarkan pantauan Harianjogja.com, puluhan warga penolak pembangunan bandara berkumpul di kawasan tersebut untuk mengawasi tanahnya agar tidak diukur oleh Satgas A maupun Satgas B. Meski sekadar duduk-duduk dan berkerumun, aksi tersebut tetap berjalan kondusif.

“Pengetatan pengawasan memang akan kami lakukan. Tujuannya, agar pengukuran yang dilakukan sesuai dengan tanah yang memang diperbolehkan. Jangan sampai kejadian Tri Sukirman [warga penolak bandara], lahannya berkurang sampai 500 meter persegi,” ujar Humas Wahana Tri Tunggal (WTT) Agus Subiyanto, Selasa (8/12/2015).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online