MASALAH LINGKUNGAN : Taman Kehati untuk Tumbuhan Endemik Merapi

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Jum'at, 11 Desember 2015 02:20 WIB
MASALAH LINGKUNGAN : Taman Kehati untuk Tumbuhan Endemik Merapi

Gunung Merapi setelah letusan freatik, Senin (18/11/2013). (JIBI/Harian Jogja/Gigih M Hanafi)

Masalah lingkungan yang terjadi setelah erupsi Merapi dijaga dengan mengembangkan tanaman endemik setempat

Harianjogja.com, SLEMAN - Jaga kelesatrian Hutan Gunung Merapi, Taman Kehati dan Arboretum Bambu yang berada di Padukuhan Banteng, Kecamatan Pakem, Sleman terus dilestarikan.

"Tujuan pembangunan Taman Kehati ini adalah untuk melestarikan tanaman endemik Gunung Merapi yang hampir setiap empat tahun terjadi erupsi, yang menyebabkan flora fauna khususnya dikawasan lereng Gunung Merapi banyak yang musnah atau rusak," kata Penjabat Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gatot Saptadi , seperti dikutip dari Antara, Jumat (11/12/2015).

Taman Kehati dan Arboretum Bambu ini memiliki luas 1,8 hektare dan pengelolaannya dilaksanakan oleh Desa Hargobinangun, Pakem dengan menunjuk kelompok masyarakat (Kotika).

"Dengan melibatkan peran serta masyarakat diharapkan Taman Kehati dan Arboretum Bambu ini dapat terawat dengan baik dan memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat," katanya.

Ia mengatakan, Pemkab Sleman juga mengucapkan apresiasi kepada semua pihak yang telah bersama-sama bersinergi dengan pemerintah Kabupaten Sleman dalam mewujudkan Taman Kehati dan Arboretum Bambu ini.

"Ucapan terima kasih terutama kepada pihak Bank CIMB Niaga, PT Pertamina DPPU Adisutjipto dan juga Institut Pertanian Yogyakarta yang telah bersama-sama masyarakat Dusun Banteng Hargobinangun Pakem sehingga kedepan dapat melestarikan tanaman endemik Merapi," katanya.

Gatot mengatakan, pengembangan tanaman bambu ini juga diharapkan dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai tanaman hasil hutan bukan kayu.

"Pemkab Sleman telah menetapkan bambu sebagai tanaman hasil hutan bukan kayu, hal ini untuk mendukung banyaknya industri khususnya UKM yang bergerak di bidang pengolahan bambu di Kabupaten Sleman," katanya.

Penjabat bupati juga berharap agar masyarakat juga manfaatkan lahan dengan menanami tanaman juga menjaga kelestarian lingkungan.

"Lahan yang sempit dapat ditanami tanaman kecil dan rerumputan, namun jika masih memiliki luas lahan yang memadai, tanamlah pohon buah- buahan seperti kepel, mangga, atau sirsak yang mudah tumbuh," katanya.

Selain buahnya dapat dinikmati, kata dia, perakaran tanaman keras tersebut mampu menyerap air lebih baik sebagai persediaan air ketika musim kemarau tiba.

"Selain dengan menanam tanaman, kita juga bisa membuat biopori di halaman rumah untuk menampung air hujan yang jatuh ke tanah," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis