Panas Bumi Ungaran Dikembangkan, PLN Siapkan PLTP 55 MW
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Sejumlah warga bersama relawan, TNI dan Polisi belajar melakukan memberikan pertolongan pertama dan evakuasi korban bencana tanah longsor pada medan sulit dalam simulasi bencana tanah longsor di Desa Hargomulyo, Sambipitu, Gedangsari, Gunungkidul, Kamis (5/12/2013). Kegiatan digagas oleh Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM tersebut menjadi sarana bagi warga berlatih menjadi relawan untuk dapat menolong warga lain dengan menggunakan benda yang ada di alam sekitar. (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Relawan bencana di DIY masih banyak yang buruk dalam manajemen
Harianjogja.com, JOGJA-Manejemen puluhan komunitas relawan di DIY masih buruk. Hal ini terlihat ketika terjadi bencana justru komunitas relawan yang bermunculan tidak mempermudah pekerjaan.
"Padahal seharusnya kalau banyak relawan, pekerjaan lebih mudah," ujar Sri Haryoto, Sekjen Relawan DIY, kepada Harian Jogja, Minggu (13/12/2015).
Ia menyebutkan, saat ini tercatat 189 komunitas relawan di DIY dan masing-masing komunitas rata-rata beranggotakan 50 orang. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 60% komunitas yang manajemennya dinilai baik.
Indikator manajemen baik dapat dilihat dari pemahaman mengenai Standar Operational Procedure (SOP). Ia menilai, belum semua relawan memahami SOP penanganan bencana. Di dalam kebencanaan, relawan terbagi dalam 26 cluster, antara lain, logistik, dapur, penanganan langsung evakuasi, dan sebagainya.
Diungkapkannya, persoalan muncul ketika orang beranggapan harus turun langsung melakukan evakuasi korban supaya disebut relawan.
"Padahal yang namanya relawan tidak harus di garis depan," tutur Sri Haryoto.
Meskipun demikian, DIY dicap sebagai daerah relawan karena baru satu-satunya wilayah yang komunitas relawannya terakomodasi.
Pembekalan untuk relawan, kata dia, selalu dilakukan dan filosofi kebencanaan sebenarnya tidak hanya bertumpu pada keberadaan relawan melainkan juga tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
"Selama ini yang terjadi masih ada kurang koordinasi di antara ketiga aspek tersebut," ucapnya.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jogja merangkul komunitas relawan yang ada di Jogja melalui pembentukan forum dan diberi pelatihan kemampuan mitigasi bencana. Sebanyak 16 komunitas relawan menjadi mitra BPBD dalam penanggulangan bencana dan tiap komunitas memiliki jumlah anggota berkisar 30 sampai 100-an orang.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jogja Bayu Wijayanto mengatakan kemampuan mitigasi bencana tidak sekadar proses evakuasi, melainkan juga kemampuan teknis menggunakan peralatan, seperti pendirian tenda darurat, membangun dapur umum, dan sebagainya.
"Setiap kali pelatihan selalu diikuti oleh perwakilan komunitas relawan yang berbeda," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Bupati Gowa Sitti Husniah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka dugaan korupsi pemerasan dan TPPU senilai Rp1,1 miliar.
BPS mencatat inflasi Indonesia September 2026 sebesar 0,3% secara bulanan dan 3,28% secara tahunan, dengan cabai jadi pemicu utama.
BPJS Kesehatan mengeluarkan lebih dari Rp100 triliun untuk 172,3 juta kasus penyakit jantung sepanjang 2015-2025.
Pengguna iPhone 18 Pro dan Pro Max mengeluhkan speaker berbunyi kresek, klik, dan letupan. Penyebabnya belum diketahui.
Prediksi susunan pemain Timnas Indonesia vs Bangladesh. John Herdman berpeluang memakai 3-4-3 untuk mengejar kemenangan dengan selisih gol.