OBITUARI EDHI SUNARSO : Prajurit yang Mengenal Seni di Penjara
Edhi Sunarso (Twitter.com/@infosenijogja)
Obituari Edhi Sunarso disusun wartawan Harian Jogja Bhekti Suryani.
Seniman sekaligus pejuang kemerdekaan Edhi Sunarso tutup usia. Pembuat patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia itu meninggalkan karya dan pemikiran yang menggugah semangat nasionalisme bangsa ini.
Letusan senapan pecah di kompleks makam seniman dan budayawan Giri Sapto, Imogiri Bantul tepat pukul 16.00, Selasa (5/12/2016) sore, saat jenazah Edhi Sunarso diturunkan ke liang lahat. Prajurit militer memimpin upacara pemakaman tokoh yang wafat di usia 83 tahun itu.
Ia meninggal Senin (4/12/2016) malam pukul 22.53 WIB di Rumah Sakit Jogja International Hospital (JIH) karena penyakit degeneratif yang menderanya di usia senja. Upacara pemakaman di Giri Sapto merupakan penghormatan terakhir bagi pejuang yang mendapat gelar kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma itu.
Edhi Sunarso selama ini lebih banyak dikenal sebagai seniman kawakan kendati ia juga seorang pejuang yang pernah hidup berhujan peluru dan mendekam di tahanan di usia 14 tahun. Pengalaman hidupnya yang getir itu kemudian hari melahirkan pemikiran dan karya besar.
Karya agungnya bertebaran di penjuru Tanah Air. Beberapa karya besar lahir dari tanggan dinginnya. Antara lain patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia yang dibuat pada 1961, untuk menyambut rombongan peserta ASEAN Games 1V yang diselenggarakan di Jakarta pada 1962.
Ia juga melahirkan karya patung di monumen Tugu Pancoran Jakarta, patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng Jakarta, diorama di Monumen Nasional (Monas), Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Pahlawan Tak Dikenal di Boven Digul, Papua dan masih banyak lagi.
Edhi Sunarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah 2 Juli 1932, putra dari Somosarjono. Ia kemudian diangkat sebagai anak oleh keluarga Holan Atmojo, seorang pegawai pertanahan pada masa Pemerintahan Belanda. Nama Sunarso ia peroleh dari keluarga angkatnya. Ia sempat mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak di daerah Gunung Sahari, Jakarta pada 1939.
Namun tragedi jatuhnya pesawat Belanda di Kemayoran, Jakarta yang menyebabkan kebakaran hebat kala itu membuatnya terpisah dari keluarga. Ia sempat diselamatkan oleh seorang guru di Vanlith School Jakarta bernama Hadiwidjaja saat insiden tersebut dan diungsikan ke sejumlah daerah.
Kesulitan ekonomi dan penjajahan Belanda mendorong Sunarso muda memilih menjadi prajurit. Tugasnya antara lain berkeliling desa menyampaikan surat ke pos-pos pro republik.
Ia kemudian berkenalan dengan sejumlah pejuang pro republik termasuk pertemuannya dengan Mayor Sukirno yang kelak memberinya nama Edhi Sunarso. Selama berjuang pula, ia pernah melakukan sabotase di daerah-daerah yang dikuasai Belanda di usia 14 tahun. Ia juga dikenal sebagai salah satu pelempar granat saat serdadu Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA) bertandang ke Indonesia.
Ia kemudian tertangkap dan menjadi tahanan tentara kerajaan Belanda atau disebut KNIL. Namun di dalam tahanan yang sempit itulah bakatnya sebagai seniman tumbuh, Edhi mulai belajar melukis. Setelah sekian lama mendekam di penjara Karangwaru, Bandung, ia bebas sebagai tahanan perang pada 1949.
Bebas dari penjara, bapak empat anak itu menuju Jogja, melanjutkan tugas sebagai prajurit. Di Kota Perjuangan inilah ia berkenalan dengan kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (Asri) kini Instutit Seni Indonesia (ISI).
Kejeniusannya melukis dan memahat mengantarkannya sebagai mahasiswa Asri. Pada 1953 Edhi memulai debutnya di kancah internasional. Ia menyabet juara dua kompetisi patung internasional di London lewat karya "The Unknown Political Prisioner". Prestasi itu mengantarkannya bertemu presiden pertama RI Soekarno. Edhi kelak menjadi kesayangan Soekarno dan dipercaya melahirkan karya besar.
Karya Edhi tak lepas dari pengalaman dan perjuangan hidupnya. "Patung-patung dia banyak tentang perjuangan, seperti pengalaman dia saat menjadi pejuang," Mahyar, kolega sekaligus murid Edhi Sunarso berkisah tentang kiprah gurunya, sebelum jasad seniman itu makamkan, Selasa sore di Giri Sapto.
Karya Edhi, bagi Mahyar menggugah nasionalisme bangsa ini, tak hanya di zaman perjuangan melainkan hingga saat ini. Semangat nasionalisme dan kemegahan bangsa itu tercermin lewat karyanya yang bertebaran di berbagai Tanah Air dan masih lestari sampai sekarang.
Lelaki yang pernah bersama Edhi membuat diorama di Monumen Nasional itu hafal ciri khas karya Edhi Sunarso. "Patung-patung karya Edhi Sunarso itu, sebesar dan setinggi apapun ukurannya tetap proporsional. Ia jenius dalam hal anatomi patung, selain patungnya yang ekspresif dan punya nilai kepahlawanan," kata lelaki 68 tahun itu.
Jasad Edhi Sunarso kini terbaring di sebelah makam isterinya Kustiah yang lebih dahulu berpulang. Puluhan karangan bunga dan ucapan duka cita mengiringi kepulangan pejuang sekaligus seniman yang menggugah nasionalisme bangsa ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share