HARGA KEBUTUHAN POKOK : DIY Surplus Daging Ayam, Mengapa Harga Bisa Tinggi?

Senin, 18 Januari 2016 09:54 WIB
HARGA KEBUTUHAN POKOK : DIY Surplus Daging Ayam, Mengapa Harga Bisa Tinggi?

Pedagang tengah memotong daging ayam di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (12/1/2016).(Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja)

Harga kebutuhan pokok untuk komoditas daging ayam tinggi, padahal DIY disebutkan surplus daging

Harianjogja.com, JOGJA- Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo mencatat ada sekitar 40 peternak ayam inti di DIY yang aktif, namun secara total ada 500 hingga 600 peternak di DIY.

Setiap hari, produksi ayam di DIY sekitar 100.000 hingga 120.000 ekor atau 150 ton hingga 180 ton daging ayam. Sementara kebutuhan per hari rata-rata antara 150 hingga 180 ton.

Disinggung soal klaim surplus untuk stok daging ayam oleh tim pengendalian inflasi daerah (TPID) Sleman, Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo hanya tertawa. "Kok dibolak balik. Kalau surplus, harga ayam tidak mungkin segitu," kritiknya, Minggu (17/1/2016).

Untuk menurunkan harga daging ayam, dia mendesak agar pemerintah segera menurunkan harga baku pakan murah.

"Ini semua masalah bahan baku murah. Kalau pemerintah hanya memikirkan populasi, tidak menyelesaikan masalah. Popilasi over pun tidak membuat harga ayam murah karena harga pokok produksi ayam tidak murah," katanya.

Pelaksana tugas Sekda Sleman, Iswoyo Hadiwarno mengklaim berdasarkan data TPID Sleman, stok untuk komoditas telur dan daging ayam surplus. Stok daging ayam surplus 13.873 ton dan telur ayam surplus 7.626 ton. Iswoyo berharap agar masyarakat tidak perlu panik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online