ORMAS GAFATAR : Polda DIY Kesulitan Ungkap Sepak Terjang Gafatar

Sunartono
Sunartono Senin, 18 Januari 2016 14:21 WIB
ORMAS GAFATAR : Polda DIY Kesulitan Ungkap Sepak Terjang Gafatar

Ormas Gafatar masih terus didalami oleh Polda DIY

Harianjogja.com, SLEMAN - Polda DIY kesulitan untuk menguak sepak terjang ormas Gafatar dalam merekrut anggotanya untuk melakukan eksodus. Penyelidikan terhadap orang hilang yang diduga ikut eksodus terus dilakukan kepolisian.

Pasca ditemukannya dokter Rica Tri Handayani, sedikitnya 40 orang hilang yang secara resmi melapor ke Polda DIY. Mereka diduga kuat mengikuti program eksodus ormas Gafatar ke Pulau Kalimantan. Mereka didominasi usia produktif antara 25 tahun hingga 40 tahun serta usia balita dan remaja.

Rata-rata orang hilang yang dilaporkan merupakan keluarga kecil dan memiliki anak balita. Mereka berpendidikan tinggi, bahkan ada yang tercatat sebagai pegawai BUMN seperti Gancang Hangga Prasetya, 31, warga Gemblakan Atas DN I/345 Danurejan yang juga hilang bersama istri dan tiga anak balitanya.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY AKBP Djuhandhani menegaskan, dua tersangka Eko dan Veni yang merekrut dokter Rica, merupakan anggota Gafatar. "Eko mengaku sebagai sekretaris Gafatar. Tapi keterangannya berubah-ubah," ungkapnya pekan lalu.

Djuhandhani menambahkan, kuat doktrin dari ormas yang diikutinya membuat kedua tersangka enggan menjelaskan ketika ditanya secara detail terkait ormas yang diikuti. "Soal dia merekrut dan lainnya itu masih dalam penyelidikan kami. Karena doktrin mereka sangat kuat dan lebih banyak tidak mau menjelaskan saat ditanya," kata dia.

Sementara Direktur Reserse Kriminal Polda DIY Kombes Pol. Hudit Wahyudi meski kedua tersangka enggan menjelaskan secara detail ormas yang diikutinya itu, namun penyelidikan terhadap orang hilang terus berjalan.

Pasca ditemukan dokter Rica, pihaknya telah menemukan Faza Anangga Noviansyah yang juga dilaporkan hilang ikut Gafatar. Faza ditemukan di Delta Pawan, Ketapang Kalimantan Barat. Perkembangan selanjutnya, dua korban lagi Kevin Aprilio dan Dyah Ayu juga terdeteksi tinggal tak jauh dari lokasi ditemukannya Faza.

"Soal keterkaitan dengan Gafatar kedua tersangka masih bungkam, apalagi terkait perekrutan. Tapi kami fokus ke pencarian orang hilangnya juga. Karena laporan yang masuk lebih dari 40 orang," tegasnya.

Kapolda DIY Brigjen Pol. Erwin Triwanto menyatakan, ormas tersebut sebelumnya sudah dilarang oleh pemerintah. Kemudian bermetamorfosa dengan nama baru dengan merekrut banyak orang. Pihaknya menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani persoalan terkait ormas tersebut.

Erwin mengakui, bahwa ada dugaan ormas tersebut mengubah diri dengan identitas baru bernama Negara Karunia Tuhan Semesta Alam. "Mereka sudah dilarang tapi bermetamorfosa," ujarnya dalam konferensi pers saat ditemukan dokter Rica.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online