PERTANIAN BANTUL : Ratusan Hektare Lahan Terancam Puso
Lahan padi tadah hujan yang baru ditanam di Desa Mangunan, Dlingo mulai mengering dan ditanami rumput liar karena minimnya curah hujan. Gambar diambil, Sabtu (16/1/2016). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Pertanian Bantul terkena dampak El Nino
Harianjogja.com, BANTUL- Ratusan hektare lahan pertanian di Bantul terancam gagal panen alias puso akibat fenomena alam El Nino saat ini. Sawah tadah hujan paling terancam saat ini.
Gagal panen membayangi ratusan petani di Selopamioro, Imogiri Bantul yang selama ini banyak mengandalkan lahan tadah hujan. Wantiyo petani sekaligus relawan yang bergerak di bidang pertanian di Dusun Lenteng, Selopamioro mengungkapkan, ada sebanyak 150 hektare lahan padi di Selopamioro yang kondisinya mulai mengering karena tidak mendapat air.
“Bila sampai tidak dialiri air maka tanaman akan mati,” ungkap Wantiyo, Sabtu (16/1/2016).
Petani mulanya sangat berharap pada hujan yang turun Desember hingga Januari ini. Biasanya hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Bantul pada awal tahun seperti sekarang.
Namun nyatanya, hujan yang turun tak seperti harapan petani. “Hujan turun tapi sangat sedikit, bahkan beberapa waktu lama sekali tidak ada hujan,” lanjutnya.
Sejatinya kata dia, petani masih memiliki solusi yaitu mengaliri lahan pertanian dengan cara menyedot air dari Sungai Oya. Hanya saja, mendatangkan air dari sungai Oya ke lahan pertanian butuh penyedotan sebanyak dua kali. Pertama menyedot air dari sungai ke penampungan air. Lalu dari penampungan disedot lagi untuk dialirkan ke sawah-sawah.
Petani harus merogoh biaya lebih mahal dari biasanya bila hendak mengairi lahan pada musim hujan seperti sekarang. Bahan bakar yang dibutuhkan untuk memompa air dari Sungai Oya ke penampungan mencapai 12 liter, belum lagi bahan bakar yang diperlukan untuk menyedot air dari penampungan air ke persawahan warga.
Kondisi serupa juga terjadi di Dlingo, Bantul. Karena intensitas hujan sangat rendah, petani tak berani menanam padi yang telah disemai karena khawatir gagal panen lantaran tidak mendapat air.
“Sebagian petani terpaksa menanam jagung, kalau menanam padi takut puso,” ungkap Ratmini, petani Dusun Pakis, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Bantul.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengakui, fenomena alam El Nino saat ini mengancam ratusan hektare lahan pertanian. El Nino menyebabkan iklim kering berkepanjangan sehingga curah hujan yang turun lebih sedikit dibanding kondisi normal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share