KURIKULUM SD : Bahasa Inggris Bukan Mata Pelajaran Jenjang SD
Perwakilan guru dari Mount Tracools Primary School Geraldton Australia, Tiana Purba Barnard menjadi pemateri dalam workshop guru bahasa Inggris tingkat SD di SD Negeri 4 Wates, Kulonprogo, Selasa (19/1/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)
Kurikulum SD, Bahasa Inggris bukan mata pelajaran di jenjang tersebut
Harianjogja.com, KULONPROGO-Kemampuan berbahasa Inggris telah menjadi kebutuhan masyarakat yang dianggap akan lebih efektif apabila dipelajari sejak dini. Meski demikian, bahasa Inggris bukanlah salah satu mata pelajaran untuk jenjang sekolah dasar (SD), melainkan hanya bisa menjadi materi pengembangan diri.
Hal itu diungkapkan Pengawas SD/MI Kecamatan Wates dari Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Kulonprogo, Jumari, saat ditemui di sela kegiatan workshop guru bahasa Inggris tingkat SD di SD Negeri 4 Wates, Kulonprogo, Selasa (19/1/2016).
Dia memaparkan, materi bahasa Inggris umumnya diberikan kepada siswa kelas atas atau kelas IV, V, dan VI. “Muatan lokal itu hanya bahasa Jawa. Sekolah bisa mengajukan bahasa Inggris tapi sifatnya di luar struktur kurikulum,” kata Jumari.
Jumari menyadari jika kemampuan berbahasa Inggris menjadi tuntutan di era globalisasi. Kalangan orang tua berharap anak-anaknya bisa diajari bahasa Inggris sejak dini walau hanya pengetahuan dasar.
Meski demikian, orang tua juga harus diberi pemahaman bahwa cara penyampaian materinya tidak akan sama seperti mata pelajaran lain. Tidak ada pelaksanaan ujian dan target nilai yang dibebankan kepada anak-anak.
Materi lebih banyak diberikan kepada anak-anak melalui permainan, nyanyian, maupun metode interaktif lain. Jumari berpendapat, upaya pengembangan diri bagi anak-anak akan lebih efektif jika mereka dibuat senang terlebih dahulu.
“Anak-anak tertarik belajar bahasa Inggris kalau ada sesuatu yang dianggap menarik dan bikin asik,” ucap Jumari.
Kepala SD Negeri 4 Wates, Teguh Riyanta mengungkapkan, materi bahasa Inggris di sekolahnya diberikan kepada siswa kelas I hingga V. Bahasa Inggris masuk dalam jadwal intrakurikuler dengan porsi dua jam per minggu.
“Tapi itu bukan mata pelajaran, hanya materi pengembangan diri yang penyampaiannya disesuaikan dengan perkembangan bahasa anak,” tutur Teguh.
Teguh lalu memaparkan, workshop yang diselenggarakan hari itu menjadi salah satu kegiatan kerja sama dengan Mount Tracools Primary School, Geraldton, Australia yang dimulai sejak 2012 lalu. Sekolah tersebut sedang mengadakan kunjungan selama lima hari hingga Jumat (22/1/2016) besok. Dia berharap, manfaat dari kunjungan itu juga bisa dirasakan SD lain di sekitar Wates.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share