PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI : Pendidikan Kespro Diharapkan Masuk PAUD

Kamis, 21 Januari 2016 12:20 WIB
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI : Pendidikan Kespro Diharapkan Masuk PAUD

Pendidikan kesehatan reproduksi direncanakan masuk PAUD

Harianjogja.com, JOGJA -- Tingginya angka dispensasi nikah di DIY membuat PKBI berencana melebarkan pendidikan kesehatan reproduksi hingga jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Upaya ini dinilai bisa memberikan informasi seputar kesehatan reproduksi sedini mungkin.

Kepala Perkumpulan Keluarga Bahagia Indonesia (PKBI) DIY Urip Bahagia mengatakan tahun lalu tercatat sebanyak 370 pasangan meminta dispensasi nikah ke Kantor Urusan Agama di seluruh wilayah DIY.

Dispensasi itu digunakan untuk melangsungkan pernikahan bagi pasangan di bawah umur. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, usia  minimal mempelai laki-laki adalah 18 tahun sementara mempelai perempuan sekurangnya 16 tahun.

Meskipun permintaan menikah sebelum waktu yang ditetapkan bukan hal yang dilarang, namun Urip mengatakan tingginya angka ini mengindikasikan angka kehamilan di luar nikah pada remaja yang tinggi. Berdasarkan pengamatannya remaja yang meminta dispensasi nikah kebanyakan beralasan sudah hamil terlebih dahulu.

"Hampir pasti meminta dispensasi karena hamil di luar nikah, jadi tingginya dispensasi nikah bisa jadi patokan," ujar dia Rabu (20/1/2016).

Kondisi itu menurut Urip menjadi alasan yang kaut untuk menggelar pendidikan kesehatan reproduksi sejak bangku sekolah. Sejauh ini di DIY baru Kulonprogo yang sudah memasukkan kesehatan reproduksi sebagai muatan lokal. Urip pun berharap langkah itu bisa diikuti oleh kabupaten dan kota lain di DIY. Tak harus sampai dalam bentuk mulok, namun cukup sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

“Bahkan kami juga sedang bekerjasama dengan forum guru PAUD untuk memasukkan materi ini ke PAUD. Tidak mudah karena harus dikenalkan sesuai umur,” kata dia.

Kepala Dias Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Baskoro Aji mengatakan pihaknya menyetujui rencana itu. Namun saat ini yang harus diperhatikan adalah materi pelajaran sudah terlalu penuh. Solusinya adalah dengan memasukkan kesehatan reproduksi ke beberapa mata pelajaran yang sudah ada seperti pendidikan jasmani atau biologi.

Soal rencana mengajarkan ke usia yang lebih dini, Aji mengatakan harus ada pengkajian yang lebih detail terkait kurikulum. Terlebih materibini harus disesuaikan dengan usia peserta didik.

"Termasuk juga dikaji bagaimana nanti sistrm pengajarannya," tandas dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online