Baterai Seng-Yodium Bisa Ngecas 3 Menit, Tahan 60.000 Kali
Peneliti Australia mengembangkan baterai seng-yodium yang bisa terisi tiga menit dan mencapai 60.000 siklus pengisian.
Kompakers Jogja (JIBI/Harian Jogja/dok. Kompakers)
Klangenan Jogja berikut mengenai fotografi.
Harianjogja.com, JOGJA-Fotografi kini tak lagi jadi hobi yang eksklusif. Tidak melulu orang-orang yang memiliki kamera canggih saja yang bisa menekuni bidang ini. Seperti perempuan-perempuan Jogja pecinta fotografi yang tergabung dalam Komunitas Kompakers Jogja.
Ketua Kompakers Jogja Reni Ratnawati mengungkapkan, komunitas ini sebagian besar member adalah perempuan, mulai dari mahasiswi, wanita karir, pengusaha hingga ibu-ibu muda yang hanya beraktivitas di rumah. Reni mengatakan, dari sering berkumpul dan momotret bersama akhirnya Komunitas Kompakan ini terbentuk.
“Kami bagian dari komunitas upload kompakan yang berasal dari Medan. Awal terbentuknya, dari grup kecil yang hobi memotret barang pecah belah, dari situ banyak perempuan yang bergabung menjadi membernya,” ujar Reni saat ditemui Harianjogja.com di Miwiti Cafe, Pop Hotel, Kamis (4/2/2016).
Komunitas ini memilih objek yang tak biasa untuk difoto dan dikemas sebagai karya fotografi yang menarik. Berbagai benda remeh-temeh yang ada di sekeliling rumah menjadi objek menarik untuk diabadikan dengan kamera ponsel. Genre fotografi yang dianut komunitas yang terbentuk 30 Oktober 2014 lalu itu adalah Still Alive Photography.
Menurut Reni, genre tersebut menampilkan foto-foto objek dari benda sekeliling yang selama ini hanya sepele dan dianggap tidak menarik sebagai objek fotografi. Di antaranya seperti piring, makanan atau perabot rumah tangga. Namun, justru keunikan inilah yang menjadikan para perempuan yang tergabung dalam komunitas ini untuk mencoba menampilkan sisi menarik objek tersebut.
“Memang tidak seperti genre fotografi pada umumnya yang memotret landscape atau human interest yang perlu melakukan hunting foto ke mana-mana. Namun, karena sebagian beasr membernya juga ibu rumah tangga, benda-benda di sekeliling rumah bisa dijadikan objek menarik,” jelas Reni.
Nungki Viandaru, anggota Kompakers Jogja menambahkan, objek foto yang diambil lebih fokus pada benda. Namun, sejak awal dibentuk, jenis foto yang difoto dan diunggah yakni cenderung mengurangi tren selfie.
“Selain itu, karena kebanyakan dari kami menggunakan kamera ponsel dalam memotret, jadi hobi ini benar-benar low budget. Selain itu, tidak perlu hunting foto jauh-jauh,” kata Nungki.
Sementara itu, Carinda Zulfika Khudori menambahkan, sejak terbentuk setahun lalu, komunitas ini telah beberapa kali melakukan meet up dengan para membernya. Diakuinya, komunitas yang terbentuk lewat sosial media seperti Instagram, cukup sulit untuk bertemu tatap muka dan saling mengenal lebih dekat. Maka dari itu, sesekali pertemuan dengan merangkai program menarik dirutinkan agar sesama member dapat saling mengenal.
“Kegiatan saat meet up itu banyak, ada workshop fotografi sampai workshop kerajinan yang bisa menambak keterampilan masing-masing anggota,” imbuh Arin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peneliti Australia mengembangkan baterai seng-yodium yang bisa terisi tiga menit dan mencapai 60.000 siklus pengisian.
Sebanyak 785 lansia penerima bansos Kulonprogo terindikasi judol. DPRD meminta penelusuran dan evaluasi agar bantuan tepat sasaran.
Pengetahuan masyarakat adat dinilai masih sering diabaikan dalam kebijakan konservasi Indonesia meski mereka menjadi penjaga lingkungan.
UII menyambut 5.326 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027. Rektor UII menekankan kompetensi, keberanian, dan kerendahan hati.
Kabut asap Kalimantan menyeberang ke Filipina. Udara Manila masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya dan sekolah diliburkan.
Inflasi Gunungkidul pada Agustus 2026 mencapai 0,28%, tertinggi di DIY. Harga daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar.