TIONGHOA JOGJA : Kenal Jati Diri Lewat Kompetisi Ako Amoi

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Kamis, 24 Maret 2016 19:20 WIB
TIONGHOA JOGJA : Kenal Jati Diri Lewat Kompetisi Ako Amoi

Gapura masuk Kampung Ketandan Jogja. (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)

Tionghoa Jogja memiliki acara pemilihan Hakka Ako Amoi Indonesia 2016

Harianjogja.com, JOGJA-Untuk mempersiapkan Pemilihan Hakka Amoi Dunia di Meizhou Tiongkok September mendatang, .

Paguyuban Hakka Jogjakarta (PHJ) sebagai salah satu Pengurus Daerah Hakka di Indonesia menyelenggarakan Hakka Ako Amoi Indonesia 2016. Kegiatan ini untuk menjaring generasi muda Hakka yang akan mewakili Indonesia maju di Tiongkok.

Hakka Amoi Indonesia 2016 dilaksanakan di Hotel Sahid Rich Jogja mulai Rabu-Minggu, 23-27 Maret.
Salah satu panitia Feny Wiendrayati menyampaikan, selama lima hari di Jogja, para peserta Hakka Ako Amoi akan mengikuti karantina di Hotel Sahid Rich Jogja.

Selama masa karantina, peserta dari seluruh Indonesia akan diberi pembekalan dan pelatihan seputar Hakka dan kompetisi Hakka Amoi Dunia. Karantina ini menjadi satu rangkaian dengan malam grand final yang akan dilaksanakan pada Minggu (27/3/2016).

“Malam sebelumnya, Sabtu [26/3/2016], peserta akan melakukan talent show. Masyarakat umum dipersilakan untuk menonton dan memberikan dukungannya,” kata Feny dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Senin (21/3/2016) lalu.

Para pengunjung umum diperbolehkan menyaksikan ajang kompetisi ini karena selain malam grand final, acara ini juga dimeriahkan dengan pameran multi produk dan juga panggung hiburan di Jogja City Mall. Acara ini juga dimeriahkan dengan kehadiran penyanyi Isyana Sarasvati, Chinese Drum dari Sekolah Tiga Bahasa Budi Utama, naga barongsai, Antonio School of Music, Komunitas Ayo Menari, workshop dolanan bocah bersama Tedjo Badut, dan masih banyak lagi.

Feny mengatakan, even Hakka Ako Amoi ini diadakan dengan tujuan agar generasi muda lebih terpacu untuk mengenal diri mereka sebagai orang Hakka. “Bisa mengenal Hakka dari segi bahasa, kuliner, dan budaya,” kata dia.

Feny mengakui bahwa seiring dengan modernisasi, banyak generasi muda Hakka Indonesia yang tidak tahu, tidak peduli akan jati dirinya sendiri sebagai seorang Hakka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online