KARNAVAL PERAWAT : Ratusan Perawat Ikut Karnaval di Malioboro, Menuntut Kesetaraan

Minggu, 15 Mei 2016 16:20 WIB
KARNAVAL PERAWAT : Ratusan Perawat Ikut Karnaval di Malioboro, Menuntut Kesetaraan

Karnaval perawat di Jalan Malioboro diikuti ratusan orang, menuntut kesetaraan keberadaan

Harianjogja.com, JOGJA- Meskipun sama-sama berstatus sebagai tenaga kesehatan, keberadaan perawat masih dianggap tak sejajar dengan peran dokter. Para calon perawat di Jogja pun mencoba menyampaikan pentingnya keberadaan perawat dengan aksi karnaval dan teatrikal untuk memeringati hari Keperawatan Internasional di sepanjang Malioboro.

Ratusan calon perawat dari 14 institusi perguruan tinggi di DIY berkumpul di halaman DPRD DIY Minggu (15/5/2016) siang. Beberapa mengenakan seragam putih khas perawat, yang lain berpakaian sesuai peran mereka dalam aksi teatrikal yang akan ditampilkan. Mulai dari berpakaian seragam sekolah sampai kostum pembalap.

Sekitar pukul 13.00 mereka pun memulai karnaval yang digelar di sepanjang Malioboro sampai Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Tak sekadar berjalan kaki, mereka juga memberikan sejumlah informasi kesehatan lewat poster yang mereka bawa.

Di titik akhir karnaval, setiap perwakilan dari masing-masing perguruan tinggi menampilkan tetatrikal yang menunjukkan pentingnya keberadaan tenaga perawat.

Salah satu peserta karnaval asal Stikes Yogyakarta Desi Setyaningsih mengatakan dirinya dan teman-temannya berusaha menampilkan peran perawat sebagai sosok yang menjadi pemberi pertolongan pertama dalam sebuah musibah lewat aksi mereka. Dia menilai meskipun memiliki tugas yang sama pentingnya dengan profesi dokter, selama ini profesi perawat masih kerap disepelekan.

Padahal menurutnya keberadaan perawat sama pentingnya dengan dokter sebagai tenaga kesehatan. Aksi itu pun menurutnya menjadi upaya untuk mensosialisasikan pentingnya keberadaan profesi perawat.

"Selain karnaval, kemarin juga ada sosialisasi di rumah sakit dan puskesmas. Selama ini profesi ini memang masih belum terperhatikan sehingga belum mendapatkan apresiasi yang layak," kata dia.

Salah satu panitia acara  Rizqy Adi Nugarah mengatakan di Indonesia perawat dan dokter masih dianggap berbeda tingkat. Keberadaan dokter masih dianggap lebih penting. Padahal sudah ada Undang-undang Nomor 38/2014 yang menjadi landasan pentingnya profesi Keperawatan.

""Kami masih dipandang sebagai pembantu dokter, padahal sebenarnya posisi dokter dan perawat beriringan. Dokter menyembuhkan secara biologis, kami membantu pasien secara psikis dan sosial," beber dia.

Kesetaraan antara dokter dan perawat itu menurut Rizqy sudah lumrah terjadi di negara-negara maju.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online