Keracunan MBG Meluas, 170 Pelajar Jombang-Nganjuk Terdampak
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
Ilustrasi daging sapi (Nurul Hidayat/JIBI/Bisnis)
Harga daging sapi di Gunungkidul meningkat tajam.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Belum sempat daging sapi turun, H-2 perayaan hari raya idul fitri harga daging sapi kembali melambung tinggi. Beberapa waktu lalu harga daging berkisar Rp120.000 hingga Rp125.000, kini daging sapi menyentuh harga Rp130.000.
Salah seorang pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Tariyah mengatakan bahwa baru hari ini, Senin (4/6) harga daging sapi mencapai angka yang cukup tinggi tersebut. Ia mengatakan bahwa untuk kualitas daging nomor satu dihargai Rp130.000, berbeda dengan daging yang kualitasnya berada di bawah.
"Untul kualitas dua dijual Rp110.000 sampai Rp120.000, beda-beda," kata dia.
Kemungkinan harga yang naik disebabkan oleh langkanya ketersediaan ternak hewan sapi. Sehingga semakin mendekati lebaran harga daging sapi menjadi tinggi. Pihaknya mengambil daging sapi dari beberapa wilayah, salah satunya di pasar hewan Siyono.
Tariyah mengatakan bahwa beberapa kali pembelinya menanyakan terkait ketersediaan daging impor yang digembor-gemborkan pemerintah melalui saluran media. Tariyah pun menjelaskan bahwa belum ada kiriman daging impor yang sampai ke Wonosari. Ia pun tak terlalu tertarik dengan iming-iming harga Rp80.000 per kilogram.
"Dulu pernah ada kiriman daging beku, begitu sampai di sini kondisinya sudah nggak seger, warnanya agak kebiru-biruan," kata dia, Senin (4/6/2016).
Penjual daging sapi lainnya di Pasar Argosari, Sukinem mengatakan bahwa kenaikan daging sapi yang dimulai hari ini belum diketahui akan turun kembali. Namun ia memprediksikan kenaikan harga daging sapi hanya terjadi di beberapa saat waktu lebaran saja.
"Belum tahu pasti kapan turunnya, kemungkinan harga akan turun maksimal satu minggu setelah lebaran," kata dia.
Pembeli pun dikatakannya banyak yang mengeluhkan harga yang makin tak dapat dikendalikan tersebut. Ia berharap pembeli tetap menaruh pilihan untuk mengkonsumsi daging sapi meskipun harga tinggi.
"Penurunan pembeli pasti ada, tapi mudah-mudahan tidak berlangsung lama, saat lebaran ini saja," ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang pembeli asal Nitikan, Semanu, Sarti mengatakan kenaikan harga saat lebaran menjadi hal yang lumrah. Menurutnya kebutuhan akan daging sapi semakin meningkat, sehingga harga pun semakin tinggi.
"Ya tetap mengkonsumsi, untuk melengkapi menu makan saat lebaran yang hanya satu tahun sekali," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
MSI mendorong pengembangan singkong di DIY untuk mendukung target bioetanol E20 pada 2028 dengan jaminan pasar dan harga bagi petani.
Menko Pangan Zulhas memastikan bantuan pangan beras berlanjut hingga Desember 2026 dengan tambahan alokasi 1 juta ton untuk tiga bulan.
Sebanyak 847 peserta dan ofisial dari 12 provinsi mulai tiba di Jateng untuk mengikuti MTQ Nasional XXXI di Semarang pada 11-20 September 2026.
KemenHAM meminta penembakan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya diusut tuntas dan pelakunya dihukum sesuai hukum yang berlaku.
Pertamina menyiapkan investasi Rp19,8 triliun untuk Green Bio-Refinery Cilacap yang ditargetkan masuk EPC 2027 dan beroperasi 2029.