Bukan Sekadar Buka Lomba, Wawali Astrid Turun ke Sungai dan Mancing Bareng Warga
Wawali Surakarta Astrid Widayani ikut lomba mancing bersama warga di Sungai Toklo. Ia mengajak warga menjaga kebersihan sungai.
Batik Sleman belum banyak yang menggunakan pewarna alami
Harianjogja.com, SLEMAN- Para perajin batik di wilayah Sleman belum banyak yang menggunakan bahan pewarna alam. Meski bahan tersebut ramah lingkungan, minimnya bahan baku pewarna alami menyebabkan ongkos produksi batik dengan warna alami tinggi.
Untuk memasyarakatkan penggunaan bahan pewarna alami, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop Sleman) menggelar lomba batik pewarna alam. Lomba tersebut digelar mulai 15 Juli hingga 7 Oktober mendatang.
“Kami berharap bisa memberi pemahaman baru budaya batik kepada masyarakat. Penggunaan warna alam lebih baik dari sisi kesehatan dan lingkungan,” ujar Ketua Dekranasda Sleman Kustini Sri Purnomo, Kamis (21/7/2016).
Diakuinya, sebagian besar perajin batik di Sleman ada saat ini masih menggunakan pewarna sintetis untuk memproduksi batik. Kondisi tersebut berdampak pada minimnya produksi batik menggunakan bahan pewarna alam.
Salah satu faktor yang menyebabkan pewarna alam kurang popular karena sulitnya para perajin mendapat bahan baku. Selain itu, proses pembuatannya lebih panjang dan harga jual terlalu tinggi sehingga dikawatirkan tidak cepat laku di pasaran.
“Inilah yang menjadi alasan utama para pembatik kurang berminat menggunakan bahan pewarna alam. Harga jual kain batik pewarna alam di pasaran bisa 10 kali lipat dari batik berpewarna sintetis," kata Kustini.
Dia menjelaskan, ada sejumlah bahan baku alam yang jamak digunakan para perajin batik. Seperti tingi, jolawe dan tegeran. Sayangnya, bahan-bahan baku tersebut saat ini sudah sangat jarang ditemukan.
Umumnya, bahan baku didatangkan dari wilayah Temanggung (Jawa Tengah) dan Tasikmalaya (Jawa Barat). Dari ratusan pelaku usaha batik di Slema, baru segelintir perajin saja yang concern menggunakan dan mengembangkan pewarna natural.
“Hasil pewarna alam bagus dan menarik meski tidak secemerlang pewarna sintetis. Saat ini, animo masyarakat terhadap batik warna alam semakin meningkat, termasuk konsumen dari luar negeri,” ungkapnya.
Sekretaris Dekranasda Sleman, Komarrudin menjelaskan, pihaknya saat ini sedang menjalin kerjasama dengan UGM untuk melakukan pengembangan bahan baku dan teknologi pewarna alam. Bahkan, katanya, UGM kini juga sedang membudidayakan tanaman Indigo di wilayah Minggir, Sleman.
“UGM turut melakukan pengembangan bahan pewarna alam kain batik. Ada sekitar empat hektare lahan yang disiapkan untuk budidaya tersebut,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wawali Surakarta Astrid Widayani ikut lomba mancing bersama warga di Sungai Toklo. Ia mengajak warga menjaga kebersihan sungai.
- Bagi pengguna motor matik, menjaga kondisi kendaraan bukan hanya soal mengganti oli secara rutin. Ada komponen lain yang juga perlu diperhatikan
Hyundai Hillstate kalah 0-3 dari Hi-Pass di KOVO Cup 2026. Megawati Hangestri mencetak 10 poin hingga set kedua, tetapi Hillstate gagal menang.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Pada Rabu (14/10), Astra Motor Yogyakarta menggelar kegiatan donor darah.
Cari mobil listrik murah di Indonesia pada 2026? Simak pilihan Seres E1, BYD Atto 1, Wuling Air ev, BinguoEV, Cloud EV SE, dan BYD Dolphin.
Apple Home Collection menghadirkan kamera pintar, kunci otomatis, dan termostat. Produk mulai meluncur Desember 2026, tetapi Indonesia belum masuk.