Airlangga Targetkan Investasi Hilirisasi Rp3.800 Triliun dalam 4 Tahun
Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi Rp3.800 triliun dalam empat tahun untuk 28 komoditas di delapan sektor.
Petani di Desa Pule Selogiri, Wonogiri, menanam padi memasuki musim tanam (MT) ke II, Minggu (5/4/2015). Petani khawatir walang sangit kembali menyerang tanaman padi milik mereka. (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos)
Pertanian Gunungkidul menghadapi anomali cuaca berupa kemarau basah yang mengacaukan pola tanam
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Kemarau basah membuat sejumlah petani di Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul terpaksa berhenti beraktifitas di ladangnya.
Hal tersebut dikarenakan kondisi lahan atau tanah yang digunakan tidak mendukung untuk tanaman pertanian.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur di Dusun Ngasinan Desa Hargomulyo, Sukiyono mengatakan bahwa tanah yang biasa digunakan untuk menanam saat ini dalam kondisi yang basah dan becek.
Hal tersebut menyebabkan sejumlah tanaman tak dapat tumbuh dengan baik. Ia pun memilih untuk menghentikan aktivitas bercocok tanam sampai waktu yang belum dapat ia tentukan.
"Kalau masih hujan terus tanaman tidak tumbuh baik. Sekarang ini lahan kami biarkan kosong terlebih dahulu," kata dia.
Sukiyono masih khawatir dengan cuaca yang tak menentu tahun ini. Hal tersebut membuatnya "aras-arasen" untuk menanam sejumlah tanaman pertanian.
Ia belum dapat memastikan kapan akan memulai kembali menanam di sawah. Kemungkinan, apabila kemarau telah benar-benar tiba maka ia akan menanam sejumlah tanaman palawija seperti kacang hijau, kacang tanah, dan sejumlah sayuran.
Namun untuk saat ini ia memilih untuk sabar menanti musim tanam yang cocok.
"Saat ini tidak mungkin untuk menanam padi. Terlalu banyak resikonya, antara lain kalau kurang air nanti pasti mati dan merugikan," kata dia.
Sukiyono yang juga mengemban tugas sebagai ketua Gapoktan Desa Hargomulyo tersebut menghimbau anggota kelompoknya untuk menahan aktifitas menanam sampai tiba musim kemarau yang kering.
Meskipun begitu, tak lantas membuat produktivitas hasil tani masyarakat menjadi berhenti total. Pasalnya, sejumlah tanaman yang bersifat tahunan seperti ketela pohon dan empon-empon masih dalam masa tanam bahkan hampir panen.
Melihat fenomena kemarau basah tersebut, Camat Gedangsari Setyawan Indriyanto mengatakan bahwa masih ada petani di wilayahnya tersebut yang melanjutkan menanam padi. Meskipun hal tersebut dilakukan dengan menanggung resiko yang besar yakni gagalnya masa panen karena cuaca yang tidak mendukung tumbuh kembang tanaman padi.
"Ada sekitar enam hingga sepuluh hektar lahan pertanian di seluruh Gedangsari yang mencoba melanjutkan menanam padi," kata dia.
Kegiatan menanam padi yang dilakukan oleh warganya tersebut dinilainya untung-untungan. Apabila tumbuh kembang padi dapat bertahan hingga menghasilkan benih beras maka itu sebuah keuntungan bagi petani.
Namun ketika padi justru membusuk ataupun mati mengering, menjadi resiko yang ditanggung penuh oleh mereka (petani).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi Rp3.800 triliun dalam empat tahun untuk 28 komoditas di delapan sektor.
Jadwal KA Bandara YIA, Kamis 15 Oktober 2026, tersedia 24 perjalanan dari YIA ke Stasiun Tugu dan sebaliknya. Cek jam keberangkatan lengkapnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Kamis 15 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jadwal lengkap dari kedua arah.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 15 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Palur hingga Jogja/Tugu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis15 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
DPRD Sleman mengimbau warga mengurangi pembakaran sampah, membatasi aktivitas luar ruang, dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu dan asap.