MASALAH SAMPAH BANTUL : Warga Baros Olah Sampah Jadi Produk Furniture

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Senin, 08 Agustus 2016 01:20 WIB
MASALAH SAMPAH BANTUL : Warga Baros Olah Sampah Jadi Produk Furniture

Masalah sampah Bantul ditangani salah satunya dengan pengolahan menjadi produk furniture

Harianjogja.com, BANTUL- Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B) mulai mengolah sampah yang kerap menumpuk akibat banjir Sungai Opak di kawasan hutan mangrove.

Ketua KP2B Dwi Ratmanto mengatakan, sudah dua bulan terakhir para pemuda pemudi Baros mengolah sampah kayu yang kerap membanjiri kawasan wisata hutan mangrove atau bakau saat banjir tiba. Sampah-sampah tersebut selama ini menjadi musuh masyarakat karena merusak tanaman bakau apabila tidak disingkirkan.

Namun belakangan, para pemuda pemudi Baros mengumpulkan sampah-sampah tersebut dan mengolahnya menjadi produk furniture. Barang kerajinan itu lalu dijual ke pengusaha furniture. “Ada pengusaha furniture dari Jerman yang tinggal di Solo [Jawa Tengah] yang membeli produk kerajinan itu,” kata Dwi Ratmanto, Jumat (5/8/2016).

Upaya mengumpulkan sampah kayu bekas itu menurut Dwi berangkat dari keprihatinan warga terhadap sampah yang kerap membanjiri kawasan wisata hutan mangrove. Ke depan kata dia, kelompok pemuda di dusunnya juga berencana mengolah sampah plastik dan sampah organik untuk dijadikan pupuk.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul Yus Warseno mengatakan, pengolahan sampah di Dusun Baros mendapat dukungan dari mahasiswa-mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah ini.

Alhasil, sampah kini tidak lagi menjadi masalah bagi warga. “Padahal kalau sampah enggak diambil, pohon mangrove bisa mati karena tertutup sampah dan tidak bisa bernafas,” jelas Yus Warseno.

Khusus pengolahan kerajinan berbahan kayu bekas, kelompok pemuda di Dusun Baros kini mulai mengumpulkan sampah-sampah bekas yang membanjiri wilayah pesisir tidak hanya di Dusun Baros, namun sepanjang pantai di selatan Bantul.

Selama ini kata dia, kawasan wisata hutan mangrove di Dusun Baros kerap menjadi langganan banjir saat hujan deras. “Setiap banjir, tidak kurang terkumpul sampah hingga sepuluh truk. Sekarang sampah-sampah itu enggak perlu diangkut karena diolah oleh warga,” lanjutnya.

Ia berharap, pengolahan sampah dapat dikembangkan dengan mengolah sampah plastik tidak hanya sampah kayu. Para pemuda Dusun Baros menurutnya dapat belajar dari daerah lain yang telah berhasil mengolah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis