KAMPANYE ANTIROKOK : Sosialisasi Gerakan Diusulkan Masuk Kurikulum

Sabtu, 27 Agustus 2016 16:20 WIB
 KAMPANYE ANTIROKOK : Sosialisasi Gerakan Diusulkan Masuk Kurikulum

Aktivis Smoke Free Agents menggelar aksi membentangkan poster di arena Car Free Day (CFD) Jakarta, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta, Minggu (15/2/2015). Mereka menuntut pemerintah untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) untuk melindungi lebih dari 40,3 juta anak Indonesia usia 0-14 tahun yang menjadi perokok pasif. (Dwi Prasetya/JIBI/Bisnis)

Kampanye antirokok terus ditanamkan sejak dini.

Harianjogja.com, JOGJA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi menegaskan sosialisasi gerakan antirokok akan diusulkan masuk dalam materi kurikulum sekolah. Adapun sosialisasi akan dimulai sejak sekolah dasar.

Muhadjir mengungkapkan sosialisasi antirokok kepada siswa sekolah dasar merupakan upaya memperkuat pembentukan karakter. Rencananya materi akan diajarkan mulai SD hingga jenjang SMA. Alasannya jelas, karena rokok menjadi ancaman kesehatan terutama bagi anak-anak.

"Tujuannya memang memperkuat gerakan antirokok sejak pendidikan dasar, bukan PAUD. Pendidikan dasar itu kan dimulai dari SD. Kemudian nanti berlanjut ke SMP, lantas SMA sesuai dengan porsinya masing-masing," ujar Muhadjir saat menghadiri pembukaan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XIII di Sportorium Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY), Jumat (26/8/2016).

Kendati begitu, Muhamdjir juga belum memastikan kapan pilot project sosialialisasi antirokok masuk dalam materi kurikulum itu resmi diberlakukan. Menurut dia, hal itu masih sebatas usulan dan masih akan dikaji lebih mendalam.

"Masih menunggu persetujuan dari APBN juga kan untuk menjalankan pilot project ini," tandasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sosialisasi antirokok sejak pendidikan dasar sekaligus merupakan upaya mendukung konsep pendidikan karakter yanng digadang-gadang Presiden Joko Widodo. Jika disetujui konsepnya nanti akan diberlakukan secara menyeluruh di Indonesia.

Sementara itu, dukungan sosialisasi antirokok pun mendapat dukungan dari akademisi.

Pakar Pendidikan dari Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) mengungkapkan, usulan Mendikbud itu cukup positif. Buchory menyatakan, sangat efektif bila sosialisasi anti rokok dimasukkan dalam kurikulum dengan tujuan agar siswa SD mengenanal sejak dini bahaya-bahaya rokok. Hanya saja, Buchory menekankan agar nantinya  pendekatan yang ditempuh  nantinya memakai cara tepat.

"Kalau menurut saya  pendekatannnya yg tepat adalah pendejatan integratif," ujar Buchory saat dimintai konfirmasi di waktu dan tempat yang berbeda.

Artinya, menurut dia, sosialisasi antirokok tersebut diintegrasikan ke dalam mata pelajaran atau bahan ajar yang relevan. Jadi tidak menggunakan pendekatan monolitik yang berdiri sendiri sebagai mata pelajaran karena jumlah mata pelajaran sudah banyak sehingga  akan membebani peserta didik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online