HIV/AIDS JOGJA : Rumah Sakit Diminta Tak Diskriminasi Tapi Perhatikan SOP

Sunartono
Sunartono Sabtu, 17 September 2016 05:20 WIB
HIV/AIDS JOGJA : Rumah Sakit Diminta Tak Diskriminasi Tapi Perhatikan SOP

Ilustrasi HIV/AIDS (FOTO ANTARA/REUTERS)

HIV/AIDS Jogja, pasien diharapkan mendapat pelayanan kesehatan yang sama.

Harianjogja.com, JOGJA -- Dinas Kesehatan DIY mendorong stakeholder, terutama rumah sakit berkomitmen menerima pelayanan bagi pasien orang dengan HIV AIDS (ODHA) secara terbuka. Komitmen itu untuk meminimalisasi terjadinya diskriminasi fasilitas kesehatan (Faskes). yang didapatkan pasien ODHA.

Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembayun Setyaningastuti mengatakan dengan tidak adanya pembedaan layanan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan para tenaga kesehatan di lapangan, yakni melaksanakan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP). Seperti perlunya menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam menangani pasien. Penggunaan APD ini, sebenarnya tidak hanya berlaku saat menangani pasien ODHA saja, tetapi sebaiknya tenaga kesehatan memakai APD untuk semua jenis pasien.

"Contoh, kalau persalinan, [peralatan tenaga kesehatan] harus sudah lengkap penggunaan APD [alat pelindung diri], tidak berlaku bagi HIV/AIDS tetapi semua harus pakai APD," kata dia, Kamis (16/9/2016).

Pembayun mengakui dengan adanya keterbukaan pelayanan, memang dimungkinkan berdampak pada rasa malu seorang pasien ODHA. Hal ini butuh pendekatan tersendiri bagi tenaga kesehatan di lapangan. Terutama agar pasien bisa menyampaikan keluhannya lebih detail untuk ditindaklanjuti.

"Termasuk memberikan info kepada teman-teman ODHA, tidak bisa to menyembunyikan terus, kapan kita tahu kalau kalau dia tidak menyampaikan," imbuhnya.

Ia menambahkan, jika sebelumnya hanya empat rumah sakit yang bisa menampung pasien HIV/AIDS, tetapi saat ini semua RSUD ditambah beberapa puskesmas di DIY. Dalam rangka penanggulangan, di DIY sudah ada satu titik shelter ODHA di Kota Jogja.

Di lokasi itu ditampung beberapa kumpulan ODHA yang mereka telantar dan kurang mendapat perhatian keluarga. Shelter ini rencananya akan dikembangkan di semua daerah di DIY melalui kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkompetensi di bidang penanganan ODHA. Tetapi, butuh komitmen masyarakat sekitar dalam mendukung.

"Untuk masyarakat yang peduli, sudah banyak. Jogja lebih banyak dibandingkan dengan daerah lain," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online