HARGA KEBUTUHAN POKOK : Iklim & Stok Terbatas Dongkrak Harga Cabai

Sunartono
Sunartono Rabu, 02 November 2016 08:55 WIB
HARGA KEBUTUHAN POKOK : Iklim & Stok Terbatas Dongkrak Harga Cabai

Harga kebutuhan pokok berupa cabai sulit dikendalikan.

Harianjogja.com, JOGJA -- Pemerintah DIY mengakui sulitnya mengendalikan harga pangan terutama komoditas cabai. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY mencatat cuaca buruk yang terjadi membuat pasokan cabai terus menurun sehingga harga cenderung tinggi.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/11/01/harga-kebutuhan-pokok-pemerintah-kesulitan-kendalikan-harga-cabai-mengapa-765464">HARGA KEBUTUHAN POKOK : Pemerintah Kesulitan Kendalikan Harga Cabai, Mengapa?)

Kepala BKPP DIY Arofah Noor Indriani menyampaikan hal itu diperparah lagi dengan banyaknya penjual dari lokal DIY yang lebih memilih mengirim lombok ke luar daerah. Mengingat, kata Arofah, cabai asal DIY banyak diminati daerah lain terutama di kawasan barat. Penjual atau petani lebih memilih mengirim ke luar seperti ke DKI dan Jawa Barat karena harganya lebih tinggi dari DIY. Sehingga suplai lokal kian menipis.

"Namun itu diantisipasi bisnis to bisnis, asosiasi[pedagang]nya sudah ada komitmen di daerah satu jika stoknya kurang, maka daerah lain masuk ke DIY. Terutama yang berdekatan seperti Muntilan, Ketep daerah pegunungan [Magelang], jadi [dari luar] itu ketersediaan kita," ungkapnya, Selasa (1/11/2016).

Untuk mengatasi ketersedian cabai di DIY, terpaksa harus mendatangkan dari daerah lain terdekat seperti kawasan Magelang. Persentase ketersediaan pun cukup mencolok, DIY hanya menggunakan cabai lokal sekitar 25%, sedangkan 75% dari total kebutuhan dipasok dari luar daerah.

Terkait meningkatkan harga cabai dan banyaknya penjual yang lebih memilih mengirim stok lokal ke luar daerah, kata Arofah, pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengendalikan. Alasannya, karena itu menjadi hak hak para pedagang. Akantetapi, upaya yang dilakukan hanya sebatas meminimalisasi laju banyaknya pengiriman ke luar daerah. Agar antara pedagang dan petani tidak sama-sama dirugikan.

Cara untuk meminimalisasi pun hanya bisa dilakukan sebatas imbauan. Seperti agar tidak mengambil terlalu banyak keuntungan karena ada pihak lain yang berpotensi dirugikan.

"Tidak bisa langsung menyetop, bukan kewenangan pemerintah. Memberikan pemahaman, sebenarnya yang mencari keuntungan hampir semua orang. Jangan monopoli sendiri masyarakat yang lain diperhatikan, dengan cara seperti itulah," ujar dia.

Menurut Arofah, hanya cabai yang paling memprihatinkan saat ini, baik dari sisi harga terus meningkat maupun ketersediaan yang tidak seimbang dengan permintaan. Selain cabe, komoditas lain yang sama sekali tidak bisa dipenuhi DIY adalah sayuran. DIY selalu memiliki sifat ketergantungan dengan daerah lain yang memiliki dataran tinggi, untuk memenuhi pasokan sayuran.

"Tetapi saat ini yang paling memprihatinkan ya cabe. Dari sisi ketersedian kalau komoditas lain masih aman," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online