WISATA KULONPROGO : Prospek Besar, Hutan Mangrove Butuh Investor, Tertarik?

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Kamis, 03 November 2016 13:22 WIB
WISATA KULONPROGO : Prospek Besar, Hutan Mangrove Butuh Investor, Tertarik?

Kawasan hutan mangrove di Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon dianggap membutuhkan kehadiran investor untuk pengembangan lebih lanjut, Rabu (2/1/2016). Kawasan konservasi tersebut belakangan ini semakin populer sebagai objek wisata baru di penghujung barat Kulonprogo. (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Wisata Kulonprogo hutan mangrove memerlukan nilai tambah

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Keberadaan hutan mangrove di Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon dinilai membutuhkan keberadaan investor. Suntikan modal dapat memberi nilai tambah bagi pengelolaan kawasan tersebut sebagai objek wisata baru di ujung barat Kulonprogo.

Masukan tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) DIY, Bayudono dalam kunjungan ke sejumlah kawasan potensial di Kulonprogo pada Rabu (2/11/2016). Menurutnya, lingkungan hutan mangrove tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan produktif.

“Bukan hanya hutan mangrovenya, tapi juga kawasan sekitarnya,”jelasnya kemarin di hadapan sejumlah pengelola mangrove.

Kawasan sekitar yang juga banyak memiliki potensi bahari bisa dikembangkan baik dari segi lingkungan maupun perekonomian. Ia menyebutkan pengembangan kepiting, ikan, dan burung menjadi beberapa contoh yang bisa dikembangkan lebih jauh. Meski demikian, masyarakat bersama pemerintah daerah juga harus bisa menyeimbangkan kepentingan yang ada agar tidak saling mengganggu. Hutan mangrove dan tambak udang menjadi potensi alam dan usaha masyarakat yang dianggap paling menonjol.

Lebih lanjut, Bayudono juga mengimbau pemeritah daerah memperhatikan dengan seksama akan penataan lingkuang dan tata ruang, khususnya dengan adanya sejumlah proyek di Kulonprogo. Tata ruang yang ada haruslah proporsional dan tidak mengganggu lingkungan masyarakat setempat.

Ketua Pelestari Hutan Mangrove dan Pesisir Wanatirta, Warso mengatakan kawasan hutan mangrove seluas 7 hektar tersebut telah terbukti mampu mengangkat perekonomian masyarakat setempat. Paling tidak, satu bulan terdapat pemasukan sebesar Rp15 juta hingga Rp20 juta untuk tiap kelompok dari pariwisata.

“Uangnya hasil dari biaya masuk, penjualan bibit, dan beragam kegiatan pengunjung,”ujarnya.
Keberadaan mangrove yang bermanfaat sacara ekonomi juga secara tidak langsung mengembangkan kesadaran konservasi mangrove. Sementara konservasi hutan mangrove juga mampu mengindarkan kawasan sekitarnya dari bahaya banjir. Warso juga menyebutkn bahwa hutan mangrove memberikan manfaat lainnya bagi masyarakat salah satunya sebagai pewarna batik dan bahan baku tepung.

Rombongan mengunjungi sejumlah titik yang akan terdampak mega proyek Kulonprogo antara lain jalur jalan lingkar selatan (JJLS), pabrik pasir besi, pelabuhan Adikarto, dan kawasan calon Bandara Temon. Hasil tinjauan ini sedianya akan dilaporkan kepada Gubernur DIY sebagai bahan evaluasi dan perencanaan mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis