Keracunan MBG Meluas, 170 Pelajar Jombang-Nganjuk Terdampak
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
Ilustrasi mahasiswa (Nationofchange.org)
Kampus Jogja untuk pendidikan pariwisata perlu kerja sama.
Harianjogja.com, JOGJA - Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V Yogyakarta terkejut melihat perbedaan yang sangat tajam pada perguruan tinggi bidang pariwisata di Jogja.
Kesenjangan tersebut terlihat dari jumlah mahasiswa yang dimiliki masing-masing kampus pariwisata.
Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Supriyadi mengungkapkan di Jogja total ada sembilan kampus yang memiliki kajian khusus pariwisata. Sembilan perguruan tinggi tersebut semuanya berstatus swasta. Dari sembilan kampus pariwisata itu, menurut Bambang, yang mudah dalam menjaring mahasiswa hanya dua, yakni Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (Stipram) dan Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Jogja.
"Dua kampus itu bisa menjaring mahasiswa hingga mencapai angka di atas 1.000 dalam setiap tahun ajaran baru. Lainnya, hanya mendapatkan mahasiswa sebanyak 40 saja susahnya minta ampun," ujarnya usai membuka kegiatan Temu Nasional Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata di Hotel Sahid, Rabu (2/11/2016).
Dia belum mengetahui secara pasti penyebab sejumlah kampus pariwisata di jogja ini belum bisa berkembang maksimal. Padahal Jogja merupakan kawasan yang memiliki banyak potensi wisata.
"Tentu hal ini harus segera dicari akar masalahnya, apakah masalah terjadi karena akreditasi, kurang promosi atau letak kampus yang kurang strategis, atau karena jumlah PTS terlampau banyak," jelas dia.
Bambang pun memberikan gambaran solusi agar kampus-kampus pariwisata di Jogja ini mendapatkan pemerataan jumlah mahasiswa. Solusinya tentu saja dengan bersinergi dengan kampus pariwisata lainnya yang memiliki skala lebih besar. Dalam kondisi seperti saat ini, menurut dia kampus tidak boleh mempertahankan idealisme kolot dalam persaingan.
Bambang memberikan gambaran tentang solusi yang dia berikan pada Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) beberapa waktu lalu. Kala itu STTNAS sangat kesulitan dalam mendapatkan mahasiswa.
"Penyebabnya STTNAS kukuh bersaing dengan Teknik Perminyakan UPN Veteran yang lebih menjadi pilihan. Yang terjadi justru STTNAS semakin sulit mendapat mahasiswa waktu itu," terangnya.
Bambang kemudian menyarankan STTNAS agar mendatangi UPN dan menjalin kerjasama. Dengan begitu, STTNAS bisa mendapatkan mahasiswa dari sisa-sisa pendaftar yang tidak diterima di UPN. Minimal mendapatkam data pendaftar untuk di follow up.
"Terbukti setelah itu STTNAS mendapat banyak mahasiswa. Bahkan saat ini Teknik Pertambangan sampai over kuota. Saya kira itu bisa diterapkan juga di perguruan tinggi pariwisata agar sama-sama berkembang," tegasnya.
Apalagi, lanjut Bambang, pendaftar di Stipram dalam setiap tahun mencapai 3600 lebih. Padahal yang diterima hanya sekitar 1600. Artinya ada 2000 pendaftar yang dibuyang percuma. Ribuan pendaftar yang tidak diterima itu selanjutnya bisa direkomendasikan masuk Di kampus-kampus lain yang kesulitan mendapat mahasiswa.
Sementara Ketua Umum Stipram Suhendroyono mengakui, masing-masing kampus masih kental dengan ego masing-masing, terutama dalam hal persaingan mendapat mahasiswa.
Persaingan yang tidak bersinergi itulah yang menurutnya justru Menjadikan perguruan tinggi pariwisata tidak berkembang.
"Bagi kami persaingan semacam itu tidak pantas. Sudah saatnya kita saling bersinergi untuk kemajuan bersama," jelas Suhendroyono.
Temu Nasional Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata itu sekaligus merupakan upaya untuk mewujudkan persatuan kampus. Lewat wahana itu masalah-masalah yang ada di masing-masing kampus pariwisata bisa dimusyawarahkan sekaligus dicarikan. Solusinya secara bersama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
MSI mendorong pengembangan singkong di DIY untuk mendukung target bioetanol E20 pada 2028 dengan jaminan pasar dan harga bagi petani.
Menko Pangan Zulhas memastikan bantuan pangan beras berlanjut hingga Desember 2026 dengan tambahan alokasi 1 juta ton untuk tiga bulan.
Sebanyak 847 peserta dan ofisial dari 12 provinsi mulai tiba di Jateng untuk mengikuti MTQ Nasional XXXI di Semarang pada 11-20 September 2026.
KemenHAM meminta penembakan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya diusut tuntas dan pelakunya dihukum sesuai hukum yang berlaku.
Pertamina menyiapkan investasi Rp19,8 triliun untuk Green Bio-Refinery Cilacap yang ditargetkan masuk EPC 2027 dan beroperasi 2029.