AI Makin Banyak Dipakai di Industri Gim, Kreator Belum Tergantikan
AI makin banyak digunakan di industri gim untuk mempercepat produksi, tetapi kreator tetap dibutuhkan karena hasil AI masih perlu diperiksa dan disempurnakan.
Aksi diam bentuk solidaritas pelajar di Tugu Jogja, yang tergabung dalam Aliansi Pelajar Jogja atas peristiwa klitih dan kekerasan antar pelajar yang terjadi beberapa waktu lalu, Minggu (18/12/2016). ( Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Kekerasan Jogja, persoalan klitik terjadi karena berbagai faktor penyebab.
Harianjogja.com, JOGJA -- Sejumlah pelajar Jogja menggelar aksi bisu sebagai bentuk solidaritas atas tragedi kekerasan antar pelajar yang mengakibatkan seorang pelajar meninggal dunia. Pelajar yang tergabung dalam Aliansi Pelajar Jogja ini menyoroti kurangnya pendidikan etika yang diberikan di sekolah dan rendahnya pengawasan orang tua.
"Apa yang terjadi kemarin, tidak sebatas salahnya siswa, tetapi kami juga menelisik penyebabnya sampai ke akar-akarnya," ujar juru bicara aksi Muhammad Khalid saat menggelar aksi di kawasan Tugu Jogja, Minggu (18/12/2016).
Khalid mengatakan demoralisasi pelajar yang begitu dominan disebabkan kurangnya pendidikan etika di lingkungan sekolah, serta pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Contoh yang dirasakan pelajar SMA Negeri 1 Jogja ini seperti adanya kebijakan jam pulang sekolah yang dipercepat. Menurut Khalid, kebijakan ini memberikan banyak dampak, salah satunya siswa semakin aktif berkegiatan di luar sekolah maupun rumah.
"Seperti ngumpul-ngumpul dengan teman di luar sekolah. Apalagi jika bertemu dengan orang-orang di lingkungan yang negatif, maka dampaknya bisa sangat buruk dan bisa menjerumus ke aksi-aksi klitih seperti saat ini," jelas Khalid.
Para pelajar seluruh Jogja ini menggelar aksi bisu bertajuk Diam Untuk Peduli. Aksi ini adalah bentuk solidaritas para pelajar atas meninggalnya Adnan Wirawan Ardiyanta, siswa SMA Muhammadiyah I Jogja akibat aksi klitih beberapa waktu lalu. Melalui aksi ini diharapkan dapat menyadarkan pemerintah untuk segera menindaklanjuti kasus kekerasan antar pelajar dan memberikan solusi yang bijak serta dapat mengevaluasi kembali pendidikan di jenjang SMA.
Aksi ini bukan hanya menyasar pelajar, tetapi juga masyarakat luas dengan memasang banner bertulis Kala rumah penuh gelisah, sekolah tak lagi ramah, kemana kami harus berbenah? serta Kami bergerak dengan hati kami, Kami membisu untuk peduli. Banner tersebut dipasang di sejumlah titik strategis di Jogja.
Siswa SMA Negeri 8 Jogja, Muhammad Ezra Eferest mengharap, aksi ini merupakan duka bagi semua pelajar di Jogja. Melalui aksi ini, dia ingin menyerukan agar para pelajar dapat solid dan bersatu untuk membangun Jogja dan Indonesia.
"Kami ingin menyadarkan teman-teman yang masih terjerumus dengan hal-hal negatif dengan cara seperti ini. Diharapkan citra Jogja sebagai Kota Pelajar dapat terangkat lagi dan kami ingin buktikan pelajar Jogja dapat berpengaruh besar bagi Indonesia," ungkap Ezra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
AI makin banyak digunakan di industri gim untuk mempercepat produksi, tetapi kreator tetap dibutuhkan karena hasil AI masih perlu diperiksa dan disempurnakan.
Sebanyak 49 penerima MBG di Turi Sleman mengalami gejala gangguan pencernaan. Operasional SPPG Turi Wonokerto dihentikan sementara.
Lima bandara kembali beroperasi usai terdampak abu Anak Krakatau. Keselamatan, pemeriksaan pesawat, dan penumpukan penumpang jadi perhatian.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta dinas terkait memastikan persediaan beras tersebut terdistribusi secara lancar hingga ke konsumen
Warga Desa Puro, Sragen, mengeluhkan bau sungai yang diduga dari SPPG. Pengelola menyebut limbah rumah tangga juga bisa menjadi penyebab.
KPK merespons praperadilan Silmy Karim terkait penyitaan dalam kasus dugaan pemerasan pengurusan izin tinggal WNA.