KAI Tambah 3 Kereta Tujuan Jakarta: Dari Jogja, Malang dan Semarang
KAI menambah 3 perjalanan KA menuju Jakarta dari Jogja, Malang, dan Semarang serta meningkatkan kapasitas KA Anggrek dan Gumarang.
Limbah cucian PKL Malioboro meluber ke Jalur Pedestrian (IST)
Penataan Malioboro harus memperhatikan prosedur kebersihan
Harianjogja.com, JOGJA - Mantan Walikota Jogja Herry Zudianto menyarankan perlu adanya prosedur tetap (Protap) khusus tentang kebersihan dalam rangka menjaga kenyamanan Jalur pedestrian Malioboro. Paska-dilakukan revitalisasi, masih ada sejumlah pengunjung yang belum membuang sampah pada tempatnya.
Baca Juga : http://m.solopos.com/?p=781830">PENATAAN MALIOBORO : Harus Ada Protap Kebersihan di Jalur Pedestrian
Upaya menjaga kebersihan itu harus dijadikan sebagai proses awal membangun peradaban baru Malioboro yang bebas sampah. Agar masyarakat merasa malu jika membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal itu harus dilakukan seluruh stakeholder dan pemerintah dengan cara yang cukup keras. Alasannya, karena termasuk kategori membangun sesuatu yang dari sebelumnya tidak ada menjadi ada atau dari kotor menjadi bersih.
"Itu kadang dalam tanda kutip perlu dipaksa untuk menjadi biasa. Dalam hal pemaksaan itu kita harus kenceng, kekeh, konsisten," ucapnya belum lama ini kepada Harianjogja.com
Ia menambahkan, seiring perlunya protap maka harus ada reward dan punishment terkait sampah. Namun sanksi harus menjadi yang terakhir, dengan mengedepankan partisipatif. Selain itu sebaiknya meminimalisasi terhadap toleransi membuang sampah sampah tidak pada tempatnya. Karena begitu ada toleransi maka akan terus ditiru orang lainnya. Sehingga perlu ada yang harus segera membersihkan jika ada yang nekat membuang sampah sembarangan.
"Ya [sanksi] itu ada tetapi jangan mengandalkan itu, lebih andalkan partifisipatif, semua ikut tanggungjawab, dari mulai menyediakan bak sampah, dia ikut mengingatkan, kalau ada yang telanjur buang [sampah] ya membantu membersihkan," kata dia.
Tempat sampah, kata Herry, memang perlu, namun bukan itu kuncinya, terpenting adalah membangun peradaban kebersihan bebas dari sampah. Butuh kesadaran sosial secara bersama dengan saling menjaga dan mengingatkan.
"Ada tempat sampah itu tidak cukup, karena orang harus dibiasakan taruhlah sampah pada tempatnya, kalau belum ada peradaban menaruh sampah pada tempatnya mbok bak sampah di situ, buangnya di sini. Jadi bukan harus ada berapa ratus bak sampah, tiap berapa meter harus ada bak, enggak," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI menambah 3 perjalanan KA menuju Jakarta dari Jogja, Malang, dan Semarang serta meningkatkan kapasitas KA Anggrek dan Gumarang.
Abrasi membuat jalan penghubung Pantai Cangkring dan Tanggul Tirto Bantul amblas hampir 10 meter. Warga memasang bambu sebagai pembatas.
AirAsia membatalkan dan menjadwalkan ulang sejumlah penerbangan Jakarta akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Karhutla di Sumatra dan Kalimantan ditangani polisi. Sebanyak 138 tersangka ditetapkan dan 8 korporasi diproses hukum.
BPJS Ketenagakerjaan mengajak generasi muda merencanakan masa pensiun dan memiliki perlindungan sejak pekerjaan pertama.
15.342 RTLH di Gunungkidul masih menunggu perbaikan. Tahun 2026, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5,12 miliar untuk 256 rumah.