Awas, Antraks Bisa Menyebar Lewat Kendaraan yang Melintas di Daerah Endemis
Ilustrasi antraks (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kasus Antraks mengancam DIY
Harianjogja.com, JOGJA- Kasus Antraks mengancam DIY. Belasan warga di Kabupaten Kulonprogo dipastikan positif terjangkit Antraks. Kendati belum dilaporkan ada korban jiwa, temuan itu mematahkan klaim selama ini bahwa DIY aman dari penyakit yang dapat berujung kematian itu.
DIY, sejatinya dikenal sebagai daerah yang jarang ditemukan kasus Antraks. Setidaknya dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir tidak pernah ditemukan kasus Antraks di wilayah ini, selain kejadian di Kulonprogo beberapa waktu lalu.
Pemerintah setiap tahun bahkan mengklaim ternak di wilayah ini bebas Antraks. Klaim bebas Antraks selalu disampaikan saat tiba musim penyembelihan hewan kurban setiap tahunnya. Otoritas kesehatan rutin memeriksa hewan kurban apakah terjangkit Antraks atau tidak.
Belakangan, klaim itu rontok dengan ditemukannya kasus Antraks di Kulonprogo. Kasus terakhir menjadi bukti, wilayah ini tak aman dari Antraks.
Ahli penyakit Antraks dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Wahyuni menyatakan, tidak ada jaminan daerah yang selama ini bebas Antraks akan luput dari wabah tersebut. Spora Antraks dari daerah endemis kata dia bisa saja menyebar ke daerah lain yang selama ini bebas Antraks seperti Kulonprogo.
"Hal ini dapat terjadi jika hewan dari wilayah endemis dipindah atau dijual dan dibawa ke wilayah lain. Selain itu kendaraan atau mobil yg melewati daerah endemis tadi [memicu penyebaran spora Antraks]," jelas Wahyuni kepada Harianjogja.com, Kamis (19/1/2017).
Di daerah endemis Antraks, spora yang dihasilkan Bakteri Bacillus Anthracis dapat bertahan hingga puluhan tahun di dalam tanah. Spora yang bertahan di tanah bertahun-tahun itu bisa menjangkiti ternak lewat pakan yang dimakan, air hujan maupun udara.
Spora yang termakan oleh ternak, akan menginfeksi hewan tersebut hingga menimbulkan kematian. Hewan yang terjangkit Antraks sangat direkomendasikan untuk tidak disembelih atau dibuka tubuhnya agar spora tak menyebar.
Spora tersebut menurutnya dapat mati oleh suhu 140° celcius selama 3-4 jam, atau dalam air mendidih 100° celcius selama 10 menit serta autoclaf 120° celcius selama 30 menit.
Bakteri ini juga dapat mati karena karbol meski hanya menyebabkan kerusakan spora sebesar 5% dalam waktu 40 hari dan formalin 10% selama empat jam. Sel bakteri bentuk vegetatif juga mudah mati pada suhu 54 ° celcius dalam waktu 30 menit dan peka terhadap desinfektan, antiseptik serta antibiotik.
Menurut Wahyuni, Antraks sudah sejak lama menjangkiti Indonesia. Pertama kali ditemukan di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada 1832. Hingga saat ini sudah ada 12 provinsi di Indonesia dilaporkan adanya Antraks. DIY sendiri menurut dia pernah dilaporkan adanya Antraks pada 2003. Namun hanya menjangkiti hewan tidak sampai menular pada manusia.
Kasus Antraks di Kulonprogo menurutnya harus ditanggulangi secara lengkap. Sejumlah upaya yang dapat menekan risiko wabah penyakit tersebut antara lain menutup daerah terserang, memantau lalu lintas ternak, meningkatkan kepedulian masyarakat, melakukan vaksinasi dengan program yang tepat disertai monitoring dan evaluasi hasil penanganan spora, pengobatan bagi hewan-hewan yang sakit serta pengawasan pemotongan hewan. "Harus ada komitmen kuat untuk menanggulangi kejadian ini," tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share