Cara Daftar Bansos BPNT dan PKH 2027 Lewat Perlinsos Digital
Pendaftaran bansos BPNT dan PKH 2027 melalui Perlinsos Digital mewajibkan registrasi ulang. Simak syarat, cara daftar, dan cek desil DTSEN.
Ibu Korban Sri Handayani saat menunjukkan medali milik putranya Syaits Asyam saat memenangkan kejuaraan riset dan penelitian tingkat Internasional yang berlangsung di Belanda beberapa tahun silam. (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Mahasiswa UII meninggal saat Pendidikan Dasar (Diksar) The Great Camping XXXVII yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam
Harianjogja.com, SLEMAN- "Si Pak Menteri Super Sibuk" merupakan julukan dari sang Ibunda Sri Handayani untuk putra semata wayangnya Syaits Asyam. Cita-cita Asyam untuk menempuh pendidikan di Oxford masih terngiang-ngiang di pikiran Sri.
Sayangnya, mimpi tersebut tumbang. Syam Syaits meninggal saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) The Great Camping XXXVII yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam Universitas islam Indonesia (Mapala Unisi) di Lereng Gunung Lawu, Karanganyar, 14- 21 Januari lalu.
19 tahun yang lalu, tepatnya tanggal tujuh bulan tujuh tahun 1997, lahirlah bayi laki-laki dari rahim Sri Handayani. Syaits Asyam namanya, nama pemberian orang tua yang artinya pemimpin yang berhati mulia.
Tumbuh berkembang menjadi dewasa Asyam panggilan akrabnya adalah anak yang pintar dan berprestasi, tidak tanggung-tanggung karya penelitiannya sewaktu bersekolah di SMA Kesatuan Bangsa mengenai "Penyelamatan Lingkungan dari Limbah Laut" mampu menyabet medali emas saat berlomba di Negeri Kincir Angin Belanda beberapa tahun silam.
Fotonya saat memenangi kejuaraan dengan didampingi Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi juga masih ada di album foto kenangan milik keluarga.
Menggunakan daster berwarna oranye dengan corak bunga-bunga dan kerudung hitam, dengan mata yang masih lebam dan wajah yang sayu Sri Handayani mencoba menguatkan hatinya untuk menceritakan kisah Asyam saat masih hidup.
"Dia anak yang pintar, sejak Asyam lahir ada 16 butir-butir pribadi saya terapkan dalam kehidupan anak saya. Itu sampai sekarang di print dan ditempel sama dia di kamarnya," kata Sri saat ditemui di rumah duka, Senin (23/1/2017) siang.
"Saya masih ingat betul cita-citanya untuk melanjutkan kuliah di Oxford, belum terwujud Asyam saat ini sudah menghadap Tuhan," ujarnya lagi.
Ibunda Asyam sesekali masih tidak kuasa untuk menahan air mata yang terus menetes ketika ia menceritakan Asyam.
Tidak ada yang menyangka dari kegemarannya untuk melakukan penelitian, saat ia menempuh pendidikan di bangku kuliah justru ada kegiatan baru yang dia gemari yakni kegiatan mahasiswa pecinta alam.
"Baru pertama ini saya lihat dia mengikuti kegiatan pecinta alam, sebelumnya tidak. Namun anak ini memang sangat peduli dengan lingkungan jadi saya juga tidak heran. Apalagi kegiatan lain, anak ini memang sangat sibuk, bahkan dari pagi sampai pagi selalu berkegiatan itulah kenapa saya juluki dia "Pak Menteri Super Sibuk"ya karena aktifitasnya itu," sambung Sri.
Secarik kertas berukuran HVS dengan tinta print warna-warni betul tertempel di pintu almari almarhum, dalam kalimat pertama kertas itu tertulis "Butir-butir pribadi Asyam", sementara satu kata di bawahnya tegas tertulis dengan huruf alfabet besar "HARUS!!!" dengan tanda seru berderet seperti menandakan ketegasan jika kata harus merupakan sebuah kewajiban yang wajib dilakukan dan diamalkan.
Tidak terlalu besar namun kata-katanya sangat jelas terbaca. Bisa dibayangkan saat alrmarhum berkaca entah menyisir rambutnya setelah mandi atau berkaca saat merapikan pakaian 16 butir pribadi itu secara otomatis akan selalu teringat olehnya.
"Disiplin, Jujur, Tertib, Teliti, Bersih, Rajin, Taqwa, Punya cita-cita, Rapi, Bisa Dipercaya, Ramah, Suka menolong, Beriman, Kerja keras, Ikhlas, Tawakal. Ini yang selalu saya ingin Asyam terapkan dalam hidupnya supaya menjadi orang yang sukses bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat," jelas Sri lirih dengan nada sesenggukan menahan tangis.
Seolah belum bisa menerima kepergian anak semata wayangnya, Sri kembali berjalan pelan untuk memasuki lebih dalam kamar anaknya. Dia menunjukkan tiga buah medali milik Asyam yang didapat saat memenangi berbagai kejuaraan, salah satunya saat Asyam menang lomba riset di Belanda.
"Itu pengharum ruangan yang saya pasang di kipas angin sengaja saya beli supaya kamar Asyam wangi, tidak biasanya juga saya belikan pengharum ruangan. Almarhum pergi sangat cepat bahkan dia belum sempat mencium bau kamarnya yang sekarang wangi," imbuhnya.
Matanya kembali berair, lirih nadanya dia berucap. "Saya tidak menyangka pelukan dan permintaan maaf sebelum dia berangkat diksar itu pelukan terakhir dari almarhum," jelasnya. Setegar hati ibu manapun saat ditinggal oleh seorang anak pasti hatinya akan sangat terluka dan meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam.
Pergi dengan jaket hoodie abu-abu Sabtu (14/1/2017) Asyam berniat mengambil sepatunya yang tertinggal, sehari sebelumnya melalui pesan singkat yang ia kirim kepada ibunda tercinta ia mengatakan akan pulang pada Jumat pagi untuk berpamitan karena akan mengikuti kegiatan Diksar.
Namun Jumat terlewati Asyam tidak juga kunjung datang, Sabtu pagi pukul 09.00 WIB ia baru pulang. Hanya 60 menit ia berada di rumah mengambil sepatu dan sempat bercerita mengenai kegiatan yang akan dia ikuti, Asyam kemudian pergi. "Kalau sepatunya tidak tertinggal mungkin saya pelukan dari Asyam tidak akan saya dapat," ujar Sri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pendaftaran bansos BPNT dan PKH 2027 melalui Perlinsos Digital mewajibkan registrasi ulang. Simak syarat, cara daftar, dan cek desil DTSEN.
DPRD Sleman memprioritaskan perbaikan sekolah rusak berat untuk melindungi siswa dan guru melalui anggaran APBD serta dukungan CSR
Kimi Antonelli merebut pole position GP Amerika Serikat 2026 di Austin dengan waktu 1 menit 34,035 detik, mengungguli Max Verstappen dan Isack Hadjar.
Jusuf Kalla di Harvard menyoroti empat tantangan ekonomi Indonesia, mulai dari perang global, bencana alam, korupsi hingga kebijakan anggaran.
Sebanyak 112.212 UMKM di Sleman menghadapi tantangan digitalisasi, mulai dari literasi digital, pengelolaan keuangan hingga keamanan data.
Tiga atlet Aceh lolos seleksi Timnas Indonesia untuk Piala Dunia Minifootball 2026, tetapi hanya Tifatul Ulfi yang berangkat ke Turki karena keterbatasan anggar