FILM INDONESIA : Generasi Film Alternatif dari Kota Gudeg
Film Indonesia yang dibuat sinies Jogja dilirik
Harianjogja.com, JOGJA -- Jogja dinilai punya potensi besar melahirkan sineas-sineas muda alias generasi yang memproduksi film-film alternatif. Generasi itu kini mulai lahir dari Kota Gudeg.
Sineas kawakan Garin Nugroho mengatakan, Film Istirahatlah Kata-Kata adalah contoh munculnya generasi yang melahirkan produk alternatif. Sutradara film ini yaitu Yosep Anggi Noen berasal dari Jogja. Agustus tahun lalu, Yosep Anggi begitu ia disapa menyabet penghargaan pelestari dan penggiat budaya dari Pemerintah DIY untuk kategori seniman dan budayawan.
Ia sudah berkali-kali melahirkan karya. Istirahatlah Kata-Kata adalah debut kedua Anggi untuk film panjang setelah sebelumnya menciptakan Film berjudul Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya. Sejatinya kata Garin, ada banyak sineas muda di Jogja yang juga aktif memproduksi film alternatif. Ia menyebut nama seperti Ismail Basbeth yang melahirkan film berjudul Mencari Hilal. Film ini pernah diputar di Salamindanaw Asian Film Festival.
Bagi pendiri Jogja NETPAC Film Festival (JAFF) seperti dirinya, merupakan hal yang sangat menyenangkan apabila tumbuh budaya membuat film di Jogja, khususnya film alternatif. Yaitu film yang disajikan dengan sudut pandang berbeda dari kebanyakan film di Tanah Air. Baik sudut pandang sejarah maupun budaya. Jogja kata dia harus mengambil segmen yang berbeda dari Jakarta. Ibu kota selama ini lebih dominan melahirkan film-film populer, sementara Jogja tak perlu mengambil segmen serupa.
Garin Nugroho menekankan pentingnya ada alternatif perfilman di tengah buadaya populer. “Kebudayaan massal yang populer itu enggak dicari, orang ke depan akan mencari yang alternatif. Misalnya mencari film yang tidak mainstream,” kata Garin.
Sudut pandang alternatif itu antara lain lahir dari kebudayaan khas suatu daerah atau warisan budaya yang dilestarikan dan dibutuhkan sampai sekarang. Ia mengibaratkan budaya atau produk populer yang kini mendominasi kehidupan di Tanah Air seperti makanan dan pakaian. “Kebudayaan massal itu global, kita itu butuh yang alternatif dari heritage [warisan]. Kalau makanan gudeg misalnya itukan heritage,” tutur dia.
Bagi Garin, tenggelam oleh budaya populer membuat suatu negara atau daerah akan hidup ketergantungan. Terombang-ambing oleh isu dan tren global. Kebudayaan yang lestari di masyarakat diyakini akan membuat masyarakat khususnya para pelaku perfilman tidak bergantung pada arus global
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share