MIGRASI BURUNG : Megaproyek Kulonprogo Mengancam Habitat Burung Migran
HarianJogja/Gigih M. Hanafi Sekumpulan burung kuntul (Ardeola, Sp) mengelilingi pembajak dengan traktor di areal persawahan Patalan, Kec. Jetis, Bantul, Sabtu (14/3). Predator alami hama pada tanaman padi ini selalu bermigrasi menuju persawahan yang sedang dibajak untuk mencari makan, alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman semakin mempersempit burung tersebut untuk mencari makan secara alami.
Migrasi burung antarbenua melalui persinggahan salah satunya di Kulonprogo
Harianjogja.com, KULONPROGO- Habitat burung air migran kini terancam punah dengan pembangunan yang tengah berderap di Kulonprogo. Pabrik besi, bandara berkelas internasional dibangun di pesisir selatan DIY itu.
Direktur Yayasan Kutilang Imam Taufiqurahman menyampaikan kekhawatirannya dengan pembangunan infrastruktur yang berpotensi mengganggu ekosistem itu.
Selain habitat burung terancam punah karena lingkungan yang berubah, ancaman kecelakaan penerbangan kata dia bisa saja terjadi. Angkasa Kulonprogo kelak bakal dihujani burung besi setelah bandara beroperasi. Kawasan ini akan menjadi jalur penerbangan.
Keberadaan pesawat terbang itu seketika bisa saja menabrak gerombolan burung yang biasa berseliweran di langit Kulonprogo. Menurutnya tidak jarang kecelakaan pesawat di berbagai belahan dunia terjadi akibat menabrak burung, terutama yang berbobot besar.
Sedangkan burung kecil kata dia juga dapat masuk ke mesin pesawat dan mengganggu penerbangan.
Ia berharap, pemerintah mengkaji secara mendalam dampak ekosistem hingga bencana yang mungkin timbul dari mega proyek bandara yang berlokasi di habitat burung migran itu.
Sejauh ini menurut Imam, tak pernah terdengar ada urun rembug dari otoritas Pemerintah DIY maupun Kulonprogo kepada komunitas burung di DIY terkait dampak ekositem dari sejumlah mega proyek itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share