Jadwal Angkutan KSPN Malioboro-Pantai Drini Senin 25 Mei 2026
Jadwal angkutan KSPN Malioboro menuju Obelix Sea View dan Pantai Drini Senin 25 Mei 2026 lengkap dengan tarif terbaru.
Petugas BPPTKG DIY melihat alat pemantau getaran aktivitas Merapi di Kantor BPPTKG DIY, Jalan Cendana, Kota Jogja, Senin (5/6/2017). (JIBI/Harian Jogja/Sunartono)
Petugas BPPTKG terus memantau aktivitas Merapi melalui empat titik seismograf yang dipasang
Harianjogja.com, JOGJA—Gempa guguran yang terjadi di Gunung Merapi sempat terjadi peningkatan, terutama pada Minggu (4/6/2017). Namun, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY menyatakan status Merapi masih normal.
Baca juga : http://www.harianjogja.com/baca/2017/06/05/gunung-merapi-gempa-guguran-sempat-meningkat-822494">GUNUNG MERAPI : Gempa Guguran Sempat Meningkat
“Status gunung teraktif di dunia itu masih normal,” ungkap Kepala BPPTKG DIY, I Gusti Made Agung Nandaka, Senin (5/6/2017). Petugas BPPTKG terus memantau aktivitas Merapi melalui empat titik seismograf yang dipasang, seperti di Stasiun Pusunglondon, Plawangan, Deles dan Klathakan.
Sebelumnya, berdasarkan rekap pantauan seismograf atau alat pencatat getaran aktivitas Merapi milik BPPTKG DIY , tampak pada Minggu (4/6/2017) sekitar pukul 14.20 WIB, menyisakan banyak coretan. Di waktu tersebut terjadi gempa dengan durasi sekitar 90 detik. Merupakan peningkatan aktivitas yang terjadi secara signifikan dibandingkan dengan pola aktivitas hari-hari atau jam sebelumnya.
Made mengakui pada Minggu itu memang terjadi peningkatan gempa guguran. Namun, hal itu tergolong normal karena dalam rekapitulasi sehari selama 24 jam, biasanya juga terjadi guguran hingga belasan atau puluhan kali.
Gempa guguran itu bukan berasal dari aktivitas di dalam perut Merapi melainkan dimungkinkan karena gempa tektonik yang terjadi sekitar pukul 14.48 pada Minggu (4/6/2017) di area sekitar Gunung Merapi.
Gempa guguran yang terjadi secara visual adalah jatuhnya material yang berada di sekitar dinding ke dalam kawah. Material itu diakuinya tergolong kecil. Meski demikian, aktivitas secara detail guguran itu tak terlihat di CCTV.
Namun, Made mengakui memang guguran yang terjadi intensitasnya lebih sering. Tetapi hal itu dinilai masih normal karena pada hari-hari biasa juga kadang aktivitas yang terjadi demikian. Seringnya terjadi gempa guguran itu karena kondisi batuan puncak Merapi yang tidak stabil.
Goncangan gempa tektonik dapat memicu terjadinya guguran material di puncak Merapi. “Kemudian asap juga belum ada perubahan, masih seperti biasa. Kalau gunung api pasti ada asapnya, itu normal,” ujar Made.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal angkutan KSPN Malioboro menuju Obelix Sea View dan Pantai Drini Senin 25 Mei 2026 lengkap dengan tarif terbaru.
Pemkab Gunungkidul meminta dispensasi penggunaan solar untuk bus sekolah akibat kenaikan BBM nonsubsidi yang membebani anggaran operasional.
Debarkasi haji di YIA mulai disiapkan menyambut kepulangan jemaah pada 2 Juni 2026 dengan sistem tanpa asrama pertama di Indonesia.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pemkab Bantul siapkan lima kalurahan untuk program Kampung Redam hasil kerja sama dengan Kementerian HAM. Fokus pada resolusi konflik dan keadilan restoratif.