Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Harianjogja.com, SLEMAN–Puluhan orang mendatangi Polsek Depok Barat, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman, Jumat (9/6) malam, menuntut kejelasan soal kematian teman mereka, Martinus Rezky Naruwadan, 20.
Baca juga : http://www.harianjogja.com/baca/2017/06/10/kematian-rezky-jadi-tanda-tanya-824283">Kematian Rezky Jadi Tanda Tanya
Insiden itu bermula saat seorang pemuda meninggal dunia setelah terlibat dalam keributan yang terjadi di sebuah kedai kopi di wilayah Babasari, Caturtunggal, pada Jumat dini hari. Keributan terjadi antara Rezky dan tiga orang pengunjung lainnya.
Sekitar pukul 02.30 WIB, Rezky mendatangi ke kedai kopi tersebut. Saat sampai di dalam kedai, Rezky merasa tersinggung mendengar tawa dari tiga orang pengunjung lainnya. Diduga, ketiga orang tersebut merupakan anggota Sat Dalmas Polda DIY. Rezky langsung mendatangi meja tempat ketiga orang tersebut kemudian menanyakan maksud tawa yang dikeluarkan.
Cekcok terjadi sehingga menimbulkan keributan kecil antar keempat orang itu. Mendapat laporan dari pengelola kedai, aparat dari Polsek Depok Barat kemudian mendatangi lokasi kejadian. Aparat, kemudian mengendalikan situasi dan membawa saksi-saksi ke Polsek Depok Barat.
Kepala Polsek Depok Barat Komisaris Polisi Sukirin Haryanto membenarkan adanya insiden keributan pemuda dengan anggota dari Sat Dalmas Polda DIY. Saat diamankan, kondisi pemuda itu sudah dalam kondisi kritis.
“Selanjutnya aparat dari Polsek Depok Barat membawa Rezky ke RS Bhayangkara. Mengingat kondisi tidak membaik, kemudian dipindahkan di RSUP dr Sardjito. Di Sardjito, dikabarkan meninggal dunia,” ujarnya, Sabtu (10/6/2017).
Sukirin menyangkal penganiyaan tersebut dilakukan jajaran Polsek Depok Barat. Menurut dia, luka-luka yang dialami Rezky disebabkan oleh insiden keributan sebelumnya. Keberadaan anggota Polsek Depok Barat di lokasi hanya mengamankan lokasi kejadian dan menjaga kondusivitas.
Akibat insiden tersebut, Polsek Depok Barat sempat digeruduk oleh teman korban. Setelah mendapatkan penjelasan, teman-teman korban kemudian mendatangi Polda DIY untuk mendapatkan kejelasan. “Kami [Polsek Depok Barat] kawal mereka [puluhan orang] ke Polda untuk mendapatkan penjelasan dari yang berwenang. Kasus ini dalam penangan Polda,” kata Sukirin.
Kepala Bidang Humas Polda DIY Ajun Komisaris Besar Polisi Yulianto menjelaskan saat ini kasus tersebut ditangani Propam Polda DIY. Sejauh ini belum didapati kesimpulan terkait dengan insiden tersebut. “Masih diselidiki. Berbagai saksi, dari anggota [polisi] maupun rekan-rekan korban, yang ketika kejadian ada di TKP, tengah dalam pemeriksaan,” ucapnya, semalam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Harga tiket pesawat ke Jepang diprediksi lebih murah mulai September 2026. ANA dan JAL turunkan biaya tambahan bahan bakar jadi Rp3,69 juta, lebih hemat Rp1,4 j
Sekolah mahal belum tentu menjamin kesuksesan anak. Riset terhadap keluarga pengusaha sukses menemukan lima karakter utama yang justru lebih menentukan masa dep
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengajak warga mengawasi revitalisasi sekolah swakelola agar pembangunan sesuai kebutuhan.
Pemerintah mengalokasikan Rp820,9 triliun untuk pendidikan pada RAPBN 2027, termasuk PIP, KIP Kuliah, MBG, dan Sekolah Garuda.
Instagram resmi mengganti logo teks atau wordmark setelah 10 tahun. Desain baru menuai pro dan kontra karena banyak pengguna salah membaca tulisan Instagram men