PERANTAU GUNUNGKIDUL : Lebaran Selesai, Urbanisasi Dimulai

Jum'at, 30 Juni 2017 04:40 WIB
PERANTAU GUNUNGKIDUL : Lebaran Selesai, Urbanisasi Dimulai

Kesibukan pemudik di Terminal Dhaksinarga, Wonosari, Gunungkidul saat mulai meninggalkan kampung halaman, Minggu siang (10/7/2016). (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja)

Umumnya kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya menjadi tujuan untuk mengubah nasib

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Setelah Lebaran, urbanisasi pun dimulai. Hal itu seiring dengan kepulangan sejumlah warga di kampung halaman dan kembali ke perantauan mengajak sanak saudara bekerja ke luar kota. Umumnya kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya menjadi tujuan untuk mengubah nasib mencari pengahasilan yang lebih baik.

Bagi kota-kota besar, seperti Jakarta, urbanisasi merupakan masalah tersendiri lantaran jumlah penduduk yang semakin padat. Namun, begitu hal itu tak dapat lagi terbendung seiring dengan banyaknya warga daerah yang ingin mengadu nasib untuk merubah nasib.

Di Gunungkidul, setiap tahunnya terdapat ratusan orang yang hijarah ke berbagai kota di Indonesia, utamanya Jakarta. Sebagian berangkat pasca-Lebaran bersama sanak saudara yang mudik. Pemerintah daerah tak bisa berbuat banyak dengan fenomena tersebut. “Ya tidak masalah jika merantau membawa keahlian dan sudah memiliki tuujuan,” ucap Bupati Gunungkidul, Badingah, pekan lalu.

Dia tak memungkiri peluang pekerjaan menjadi di sektor formal atau kantoran masih sangat susah didapatkan di Gunungkidul. Sehingga hal itu menjadikan sebagian orang memilih untuk pergi ke kota besar untuk dapat kesempatan kerja di sektor formal.

Di sisi lain, menurut Badingah, pesatnya perkembangan pariwisata di Gunungkidul harusnya dapat dimanfaatkan oleh warga untuk mencari penghasilan. Dia mencontohkan Desa Wisata Nglanggeran, Patuk, bisa menyerap ratusan pemuda desa sebagai pengelolanya. Mereka tak perlu merantau sudah mendapatkan penghasilan cukup lumayan.

Selain mengelola, dengan lebih dari dua juta wisatawan pertahunnya, warga bisa mengembangkan usaha pendukung pariwisata, seperti warung, homestay dan toko oleh-oleh. Warga bisa mengembangkan potensinya daerahnya tanpa harus merantau.

Seorang perantau yang sedang mudik, Suyanto, mengaku memilih bekerja di Jakarta karena sesuai dengan ijazah yang dimikinya. Saat ini dirinya bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa di Jakarta Selatan.

Saat mudik beberapa tahun lalu, dirinya mengajak salah seorang keponakannya untuk merantau. “Dulu saya juga diajak kakak bekerja di Jakarta, di sini [Gunungkidul] sulit mencari pekerjaan, kalaupun ada gajinya tidak sebanding,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online