Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Kusno, pemilik Gua Braholo, Semugih sedang menunjukkan lokasi penggalian dan penemuan fosil manusia purba, Selasa (21/9/2015).(Harian Jogja/Uli Febriarni)
Wisata Gunungkidul berupa Gua Braholo menyangkut peradaban manusia
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Kebudayaan Gunungkidul akan mengajukan situs Gua Braholo menjadi Cagar Budaya Nasional. Saat ini, situs itu masih sebatas benda warisan budaya dari jaman prasejarah.
Kepala Seksi Kepurbakalaan dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan Gunungkidul Winarsih mengatakan, di tahun ini ada enam situs warisan budaya yang akan ditingkatkan statusnya menjadi cagar budaya. Salah satu situs tersebut merupakan Gua Braholo yang ada di Dusun Petir, Kecamatan Rongkop akan diajukan sebagai situs cagar budaya nasional.
“Sedang kita persiapkan. Mudah-mudahan di tahun ini Gua Braholo dapat menjadi situs cagar budaya nasional,” katanya kepada Harianjogja.com, Kamis (3/8/2017).
Menurut dia, ada tiga kategori untuk situs cagar budaya, mulai dari tingkatan kabupaten, provinsi hingga nasional. Pemilihan Gua Braholo menjadi kandidat sebagai cagar budaya nasional tidak lepas dari potensi yang dimiliki di situs tersebut yang nilainya sangat tinggi karena menyangkut dengan peradaban manusia, khususnya di zaman purba.
“Untuk pengajuan ini, kami juga terus berkoordinasi dengan Dewan Pertimbangan Pelestarian Budaya,” ujarnya.
Lebih jauh dikatakan Winarsih, benda cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat maupun di dalam air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah. Cagar Budaya juga dapat dikategorikan sebagai barang antik, barang kuno, barang purbakala, dan sesuatu yang dibuat oleh orang terdahulu. Setelah melakukan registrasi, cagar budaya akan diuji kelayakannya sebagai cagar budaya atau bukan cagar budaya, oleh Tim Ahli yang sudah disertifikasi.
“Jadi tidak semua penemuan benda-benda langsung bisa masuk sebagai cagar budaya karena harus dikaji terlebih dahulu,” katanya lagi.
Sementara itu, Pengelola Goa Braholo sekaligus pemilik tanah, Kusno,60, mengatakan artefak yang ada di gua sangat banyak mulai dari berbagai tulang hewan maupun fosil kayu hingga kerangka manusia. Ia mengaku melihat kerangka tersebut, karena ikut dalam proses ekskavasi. Menurut dia, tulang belulangnya lebih kecil dibandingkan dengan manusia saat ini namun kepalanya lebih besar.
“Katanya untuk temuan kerangka manusia purba diamankan di Museum Purbakala, Punung, Jawa Timur,” katanya beberapa waktu lalu.
Kusno berharap pemerintah memperhatikan lokasi yang berjarak kurang lebih 25 km dari kota wonosari ini. Sehingga dengan adanya booming wisata di kabupaten paling timur di DIY ini bisa dirasakan masyarakat setempat. “Saat ini yang datang kebanyakan merupakan akademisi yang melakukan penelitian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Musim hujan diperkirakan mundur akibat El Nino. Pakar UGM meminta petani menyesuaikan kalender tanam dan memperkuat diversifikasi pangan.
Wellnesia mengembangkan wellness tourism di Jogja dengan memadukan aktivitas kesehatan, budaya Jawa, komunitas, dan kepedulian terhadap alam.
Kasus tenggelamnya KM Virgo Transport 8 dilimpahkan ke Mabes Polri. Sebanyak 69 orang masih dalam pencarian hingga 28 September 2026.
Taj Yasin mencari terobosan pembiayaan hijau bagi IKM Jateng karena biaya awal teknologi ramah lingkungan masih mahal.
Geely menargetkan penjualan 50-60 unit per bulan di DIY meski ekonomi lesu. Dealer baru dibuka di Jl. Magelang KM 9,5.