PERTANIAN GARAM DIY : Rp800 Juta Siap Dikucurkan Pemerintah

Irwan A Syambudi
Irwan A Syambudi Jum'at, 18 Agustus 2017 07:22 WIB
PERTANIAN GARAM DIY : Rp800 Juta Siap Dikucurkan Pemerintah

Priyo Subiyo merapikan terpal penutup meja kristalisasi

Pertanian garam DIY sebagai proyek percontohan dipersiapkan

Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah DIY pastikan kesiapan dana untuk pengembangan proyek percontohan produksi garam di Gunungkidul.

Baca Juga :http://m.harianjogja.com/2017/08/10/diy-jadi-lokasi-percontohan-produksi-garam-3-titik-disiapkan-841646"> DIY Jadi Lokasi Percontohan Produksi Garam, 3 Titik Disiapkan

Disampaikan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, paska meninjau langsung potensi di Pantai Sepanjang, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul akhir pekan lalu, pihaknya memang sepakat untuk menyediakan anggaran melalui Dana Taktis Gubernur. Oleh sebab itu, hingga kini pihaknya justru menunggu pengajuan proposal dari pihak terkait.

Menurut diaa, garam yang diproduksi di Gunungkidul berbeda jenis dan teksturnya dengan garam yang banyak diproduksi di kawasan Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa. Lantaran lokasinya yang jauh dari muara serta terhalang gugusan batu karang, garam yang diproduksi di Pantai Sepanjang nantinya akan jauh lebih murni.

“Kristalnya putih bersih. Tingkat keasinannya pun jauh lebih tinggi,” katanya, Rabu (16/8/2017).

Seperti diketahui, jika dibandingkan dengan garam produksi Pantura, harga jual garam Gunungkidul jauh lebih tinggi. Jika garam produksi Pantura hanya mampu dijual dengan harga sekitar Rp500 per kilogram, garam Gunungkidul bisa menembus angka Rp7.000 per kilogram.

“Bahkan kalau petani bisa lebih sabar menunggu masa pengendapan hingga 10 hari, harga jualnya bisa mencapai Rp14.000 per kilogram,” tambah Sultan.

Bahkan, diakui Sultan, hingga kini sudah ada pengusaha yang siap menjadi pelanggan garam produksi Gunungkidul tersebut. Seorang pembudidaya ikan kerapu di Sleman, diakuinya siap membeli garam produksi Gunungkidul dengan harga Rp14.000 per kilogram.

“Karena tidak mungkin kalau dia [pengusaha] harus mengangkut air dari laut selatan ke Sleman. Ongkos produksinya jauh lebih tinggi. Lebih baik dia beli garam Gunungkidul. Toh dia yakin garam Gunungkidul bisa memenuhi syarat 25 persen kadar garam yang dibutuhkan ikan kerapu,” terangnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis