Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Sejumlah orang melintasi kawasan relokasi bagi warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang menggunakan Pakualaman Ground (PAG) di wilayah Desa Kedundang, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (11/9/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Bandara Kulonprogo, pembersihan lahan ditarget akhir bulan depan.
Harianjogja.com, KULONPROGO -- PT Angkasa Pura I menargetkan tahap land clearing atau pembersihan lahan selesai dilakukan pada akhir Oktober 2017. Namun, hal itu hanya dapat tercapai jika semua warga terdampak segera meninggalkan kawasan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA).
Baca Juga : http://m.harianjogja.com/?p=855296">BANDARA KULONPROGO : Tak Ada Toleransi untuk Kawasan Air Side
Project Manager Pembangunan NYIA PT Angkasa Pura I, Sujiastono kembali meminta warga terdampak segera pindah. Dia berharap warga tidak menghalangi kelancaran pembangunan bandara. Menurutnya, warga akan rugi sendiri jika terus menunda pindahan karena bakal terganggu dengan aktivitas pembangunan fisik, seperti suara bising, debu, dan lainnya.
“Masyarakat yang sudah dikonsinyasikan, segera diambil uangnya di pengadilan. Semakin lama akan semakin rugi karena uangnya tidak berbunga,” ucap Sujiastono, Kamis (28/9/2017).
Sebelumnya, Humas Administrasi dan Keuangan PT PP Tbk, M.Girsang mengatakan pembersihan lahan dilakukan secara paralel di seluruh kawasan pembangunan bandara baru. Pihaknya membagi pekerjaan dalam dua tim, yaitu tim yang bertanggung jawab atas area landasan pacu serta tim gedung dan terminal.
“Tahap awal diprioritaskan untuk landasan pacu dulu tapi juga paralel dengan yang lain,” ungkap Girsang.
Girsang menerangkan lahan yang sudah dibersihkan tidak serta merta dapat langsung ditindaklanjuti dengan pekerjaan konstruksi. Pihaknya masih harus melakukan evaluasi untuk memastikan kondisi tanah. Mekanisme pekerjaan fisik selanjutnya juga ditentukan setelah desain dari konsultan perencana siap, baik itu pengupasan dan perbaikan tanah maupun pengurukan dan pengerasan lahan.
Sementara itu, sebagian warga terdampak sudah pindah ke lahan relokasi yang tersebar di lima desa. Ketua Kelompok Pemukim Jangkaran, Sukarjo mengatakan warga sudah menempati hunian relokasi sejak Kamis (21/9/2017) lalu. Mereka telah melakukan pindahan selama dua hari sebelumnya meskipun rumah baru belum 100 persen jadi dan masih dalam tahap penyelesaian akhir.
Sukarjo mengungkapkan, dia dan anggota kelompoknya tidak terlalu punya pertimbangan khusus untuk menghindari pindahan di bulan Sura seperti kebanyakan warga terdampak lain.
“Karena sudah ikut program relokasi, tanggal sekian harus pergi, kami pergi. Sekarang sudah pindah [jadi] ayem,” kata Sukarjo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemenkes mencatat 1.443 kasus pemasungan penderita skizofrenia hingga triwulan I 2026 dan mendorong penguatan layanan jiwa
PLN UID Sumut memastikan pasokan listrik untuk 4,87 juta pelanggan kembali normal usai blackout di Sumatra Bagian Utara.
Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.696 per dolar AS seiring optimisme perdamaian AS-Iran dan turunnya harga minyak dunia.
BGN meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG untuk memantau kualitas Makan Bergizi Gratis melalui penilaian guru dan posyandu
Kemenhaj memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah tiba di Makkah dan siap diberangkatkan ke Arafah secara bertahap.