Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Sejumlah warga belajar jemparingan di Dusun Pengasih, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Oktober 2017 lalu. (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)
Belajar panahan tradisional di Kampung Jemparingan.
Harianjogja.com, KULONPROGO-- Bermain jemparingan dianggap menjadi bagian upaya pelestarian budaya warisan leluhur. Kulonprogo lalu berupaya mengangkat popularitas olahraga tradisional itu dengan mengembangkan Kampung Jemparingan.
Kampung Jemparingan terletak di Dusun Pengasih, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. Setiap akhir pekan, warga setempat maupun penggemar jemparingan dari berbagai daerah datang ke sana untuk belajar dan berlatih bersama. “Kegiatan Kampung Jemparingan ini sudah jalan sejak dua tahun lalu. Anggotanya sekitar 100 orang,” kata Kepala Desa Pengasih, Joko Purwanto, Oktober 2017 lalu.
Joko mengungkapkan, beberapa warga Pengasih memiliki hubungan dekat dengan abdi dalem Kraton Jogja. Mereka tertarik mempelajari jemparingan dan mendapatkan kesempatan untuk belajar di Langenastran. Mereka pun tertarik mengenalkan jemparingan kepada orang-orang di sekitarnya.
Gagasan pelestarian jemparingan ternyata disambut baik oleh warga Pengasih lainnya. Mereka bahkan secara swadaya membangun tempat latihan yang dinamai Sasana Jemparingan Mataraman Langenprogo. Sasana tersebut didirikan di atas lahan pribadi warga setempat seluas 1.000 meter persegi.
“Tempat ini dulunya Lapangan Jatikusumo karena ada pohon jati di tengahnya. Tapi pohon itu sudah direlakan untuk kegiatan ini. Sekarang juga jadi disebut Lapangan Ibnu Kuncoro karena ini sumbangan Ibnu Pamungkas dan Joko Kuncoro,” ujar Joko.
Joko lalu memaparkan, warga Dusun Pengasih dan sekitarnya sudah rutin berkumpul untuk latihan jemparingan setiap Sabtu dan Minggu. Kegiatan itu dijadikan ajang untuk menjaga semangat kebersamaan dan silaturahmi. Mereka juga sering kedatangan tamu dari paguyuban jemparingan lainnya, termasuk yang berasal dari luar daerah. Dusun Pengasih akhirnya diresmikan sebagai Kampung Jemparingan oleh Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, pada 21 Oktober 2017 lalu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan, jemparingan merupakan salah satu sarana untuk menumbuhkan semangat jiwa kemataraman. Dia berharap keberadaan Kampung Jemparingan bisa mendukung pelestarian sekaligus mengangkat popularitas olahraga tradisional itu. “Jemparingan ini juga bisa dimanfaatkan untuk menambah nilai destinasi wisata di Kulonprogo,” ucap Untung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo Jumat 22 Mei 2026. Berangkat hampir tiap jam dengan tarif Rp8.000, praktis dan hemat.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.