Peneliti Transportasi Menilai Trans Jogja Perlu Jalur Khusus, Ini Alasannya

I Ketut Sawitra Mustika
I Ketut Sawitra Mustika Jum'at, 24 November 2017 15:55 WIB
Peneliti Transportasi Menilai Trans Jogja Perlu Jalur Khusus, Ini Alasannya

Keadaan lalu lintas yang sudah mendekati gridlock karena kemacetan parah, dinilai sebagai momentum tepat untuk menyempurnakan Trans Jogja

Harianjogja.com, JOGJA--Keadaan lalu lintas yang sudah mendekati grid-lock karena kemacetan parah, dinilai sebagai momentum tepat untuk menyempurnakan Trans Jogja menjadi angkutan umum yang berkualitas, cepat dan tepat.

Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=871272">Ini Penyebab Warga Semakin Enggan Naik Bus Trans Jogja

Hal tersebut ditegaskan oleh Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Arif Wismadi. Menurutnya, langkah penyempurnaan sebagai bagian untuk melengkapi dua program reformasi angkutan umum. Yang diantaranya adalah meningkatkan standar layanan dengan suntikan subsidi dan perlindungan subsidi itu sendiri.

Ia menganggap, dengan ketiadaan lajur khusus bagi Trans Jogja, selama ini sudah terlalu banyak dana subsidi yang terbuang begitu saja. Sebab tanpa lajur khusus, sudah pasti angkutan umum yang diluncurkan pertama kali tahun 2018 itu akan ikut dalam kemacetan. Sehingga layanan itu jadi tidak menarik.

“Akibatnya penumpang dan pendapatan menurun. Kebutuhan dana subsidi jadi naik,” ucapnya saat dihubungi Kamis (23/11/2017).

Jika keberadaan Trans Jogja ingin diselamatkan, imbuhnya, maka tidak bisa tidak harus disediakan lajur khusus. Keberadaan akses spesial itu dinilai tidak hanya berefek bagi Trans Jogja saja, tapi juga akan merembet ke angkutan lain. Termasuk juga taksi resmi dengan plat kuning.

Hal itu sangat dimungkinkan mengingat jumlah armada bus yang tidak terlalu banyak. “Saat ini mestinya semua taksi resmi sudah juga on-line. Dengan pendekatan Quantity Licensing dan pengaturan tarif tidak akan menjadi pesaing meski taksi ini menggunakan lajur khusus, Tarif yang berbeda akan membuat sistem saling mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat Jogja,” ujarnya.

Arif menambahkan, untuk kendaraan pribadi yang online dan tidak bersedia beralih menjadi angkutan yang terdaftar dan resmi, maka perlakuannya sama dengan kendaraan pribadi, sehingga tidak mendapat hak untuk masuk ke lajur khusus angkutan umum.

Jika rancangan operasi ini diterapkan, sambungnya, maka pendapatan akan semakin meningkat dan wilayah pelayanan bisa diperluas. Dengan layanan bus yang berkualitas, cepat dan tepat waktu, sebutnya, maka Trans Jogja akan jadi solusi mobilitas bagi warga di saat kondisi grid-lock terjadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online