Investasi di DIY Masih Terbatas

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Senin, 11 Desember 2017 10:55 WIB
Investasi di DIY Masih Terbatas

Ruang investasi yang ditingkatkan akan mendorong investasi swasta masuk ke DIY

Harianjogja.com, JOGJA-Investasi di DIY yang bersumber dari asing (Penanaman Modal Asing/PMA) dan dalam negeri (Penanaman Modal Dalam Negeri/PMDN) masih terbatas. Dari seluruh provinsi yang ada di wilayah Jawa-Bali, porsi DIY paling rendah.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto memaparkan, di antara provinsi Jawa-Bali, investasi dari asing di Jawa Barat paling mendominasi. Jawa Barat mencapai 23,00%, DKI Jakarta 15,81%, Banten 7,13%, Jawa Timur 6,32%, Jawa Tengah 1,62%, dan Bali 1,50%. “DIY hanya 0,23 persen,” katanya, Minggu (10/12/2017).

Kondisi yang hampir sama juga terjadi untuk PMDN. Hanya saja, posisi DIY berada di atas Bali yang investasi PMDN-nya hanya 0,16%. PMDN tertinggi adalah Jawa Timur 24,42%, disusul DKI Jakarta 11,41%, Jawa Barat 11,99%, Jawa Tengah 8,71%, Banten 5,18%, dan DIY 0,45%. Budi mengatakan, ruang investasi yang ditingkatkan akan mendorong investasi swasta masuk ke DIY.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Ardhito Binadi yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran mengatakan, DIY memiliki ruang wilayah yang terbatas. Karena ruang wilayahnya kecil dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia, maka investasi yang terkait dengan ekonomi kreatif dan teknologi informasi dapat dibuka di DIY.

“Permasalahan infrastruktur masih menjadi kendala investor untuk investasi di DIY. Pembangunan kawasan industri di DIY belum bisa berjalan dengan optimal terkait permasalahan penyediaan lahan dan infrastruktur pendukung seperti air bersih, listrik, dan pembuangan limbah,” katanya.

Selain itu, aspek penyederhanaan perizinan usaha harus terus dilakukan. Menurutnya, dukungan sumber daya manusia (SDM) sudah ada, hanya saja ketersediaan lahan, suplai air, dan listrik yang mencukupi yang perlu untuk ditingkatkan. Ia berpendapat, hadirnya bandara baru dapat dijadikan momentum untuk membuka peluang investasi ke DIY. Antara lain sektor perhotelan, restoran, jasa perjalanan wisata, bahkan sampai usaha laundry.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online