BENCANA BANTUL : Tahun Depan, Warga di Zona Merah akan Dipindah

Herlambang Jati Kusumo
Herlambang Jati Kusumo Senin, 11 Desember 2017 16:55 WIB
BENCANA BANTUL : Tahun Depan, Warga di Zona Merah akan Dipindah

Warga berjalan kaki melintasi jalan di Pengkol, Sriharjo yang terdampak longsor, Rabu (29/11/2017). (Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja)

Program relokasi rumah dari zona merah rawan bencana dimungkinkan meningkat tahun depan

Harianjogja.com, BANTUL--Program relokasi rumah dari zona merah rawan bencana dimungkinkan meningkat tahun depan. Hal tersebut disebabkan bencana yang menimpa Bantul terjadi di beberapa titik.

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Bantul, Dwi Daryanto program relokasi setiap tahunnya dianggarakan namun kemungkinan tambah untuk tahun depan.

"Relokasi merupakan program rutin setiap tahunnya 10 Kepala Keluarga [KK] dengan anggaran satu KKnya Rp25 juta. Namun kalau terjadi bencana seperti ini tidak cuma APBD yang disiapkan, mungkin ada bantuan dari Kementrian maupun BNPB," katanya.

Namun dirinya juga berharap untuk masyarakat yang mengalami kerugian tidak terlalu besar tidak mengandalkan program tersebut. Beberapa kecamatan yang paling rawan longsor atau masuk zona merah diantaranya Piyungan, Dlingo, Imogiri, Pundong.

Dwi juga mengatakan program relokasi hanya merupakan salah satu cara mitigasi bencana. Banyak yang lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko bencana itu. Untuk program keseluruhan masyarakat yang ada di zona merah itu juga pemerintah dirasanya masih berat.

"Kalau relokasikan kita harus menyiapkan tanah. Apakah mampu pemerintah daerah atau desa menyediakan tanah sebegitu banyak," katanya.

Dia mengatakan ada mitigasi bencana struktural lainnya yaitu dengan penguatan tebing yang mudah longsor dengan penanaman pohon-pohon, tegakan pohon lebih dirapatkan dipilih pohon yg bisa menahan erosi.

Dia mengatakan jika membuat rumah, memangkas tebing jangan tegak lurus. Lebih baik menggunakan sistem terashering lalu diberi tanaman. Menurutnya jangan dihabiskan lahan untuk rumah semua.

"Jika rumah semua otomatis pasti tegak lurus motongnya, karena yang sebelah tanahnya sudah milik orang, tapi kalau dibuat miring otomatis berkurang luas tanah, tapi kan aman," ujarnya.

Pada intinya dikatakan oleh Dwi bahwa masyarakat harus sadar jika tinggal disuatu kawasan rawan bencana. Mereka harus bisa meminimalisir dampak bencana itu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online