Kena Prank, Timnas Malaysia Sempat Merayakan Selebrasi Lolos Final FIFA ASEAN Cup
Indonesia lolos ke final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menang 9-2 atas Bangladesh dan mengungguli Malaysia yang menang 6-0 atas Singapura.
Ilustrasi bocah pengidap difteri (JIBI/Solopos/Antara)
Pemerintah perlu lebih gencar mengedukasi terkait program imunisasi agar difteri tidak banyak terulang
Harianjogja.com, SLEMAN-Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM memperkirakan kejadian luar biasa (KLB) kasus difteri disebabkan karena masih adanya sekelompok masyarakat yang enggan menerima vaksin atau sering disebut dengan kelompok antivaksin. Pemerintah perlu lebih gencar mengedukasi terkait program imunisasi agar difteri tidak banyak terulang.
Ahli Epidemiologi Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM Riris Andono Ahmad memastikan, ada persoalan di ranah imunisasi sehingga menimbulkan maraknya difteri. Apalagi, ada beberapa kelompok yang menolak imunisasi sehingga cakupan vaksinasi menurun. Persoalannya, seringkali orang yang menolak vaksin itu berada dalam komunitas yang sama sehingga ada populasi yang tidak tervaksinasi, sehingga menjadi booming.
"Selama ada orang yang tidak punya kekebalan dan kemudian kontak dengan orang yang sakit itu bisa tertular. Sekarang tinggal seberapa banyak orang yang tidak punya kekebalan," terangnya, Rabu (13/12/2017).
Padahal, saat ini mobilitas masyarakat tergolong tinggi. Misalnya, seseorang usai perjalanan dari luar negeri kemudian membawa satu jenis penyakit akan dengan mudah menular pada kelompok atau kampung anak yang tidak tervaksinasi.
Menurutnya, memang tidak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah divaksinasi kemudian tidak terserang penyakit. Namun, pihaknya lebih melihat dari studi epidemiologi pada risiko jika seseorang telah mendapatkan vaksinasi maka resiko terjadi wabah atau KLB menjadi sangat kecil, karena ada kekebalan.
"Kalau sebagian masyarakat tervaksinasi kemudian ada beberapa yang tidak, dia [yang tidak divaksin] itu akan terlindungi, karena penyakit itu sulit mencari orang yang tidak divaksinasi itu, beda kalau yang tidak tervaksinasi itu ngumpul jadi satu," ungkap dia.
Kelompok yang paling rentan terserang difteri adalah kelompok anak-anak, tetapi dewasa juga memiliki resiko terkena jika tidak memiliki kekebalan. Oleh karena itu, pemerintah perlu merespons peristiwa itu dengan melakukan imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) bagi anak-anak atau kelompok rentan tersebut yang belum diberikan.
Pemerintah, lanjut dia, sebenarnya telah melakukan outbreak response immunization (ORI), sebagai upaya menanggulangi KLB. "Masyarakat harus diimbau untuk mau, bersedia diimunisasi," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Indonesia lolos ke final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menang 9-2 atas Bangladesh dan mengungguli Malaysia yang menang 6-0 atas Singapura.
Kebijakan fiskal 2027 tetap pro-growth dengan target pertumbuhan 6% dan defisit 2,4% PDB, namun pemerintah menjaga kehati-hatian fiskal.
Hari Kretek Nasional 2026 diwarnai konsolidasi 15 komunitas yang menghasilkan enam tuntutan terkait regulasi industri kretek.
Kemkomdigi membuka kanal pengaduan kuota internet melalui 159 dan meminta operator memenuhi perlindungan sisa kuota sesuai putusan MK.
Pabrik es KNMP Poncosari Bantul belum optimal karena harga jual dan persaingan es balok, ditambah minimnya hasil tangkapan nelayan.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyebut baru 25 persen sekolah mengajarkan coding dan AI, mulai kelas 5 SD hingga SLTA.