Booming Bitcoin Mirip Batu Akik

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jum'at, 22 Desember 2017 23:44 WIB
Booming Bitcoin Mirip Batu Akik

Investasi Bitcoin semakin diminati.

Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah dinilai terlambat merespons perkembangan dunia digital terkait dengan kontroversi mata uang digital Bitcoin (BTC) di Indonesia. Bagi pengguna Bitcoin, investasi digital ini dinilai paling transparan dengan peluang penipuan yang hampir mustahil, namun memberikan keuntungan jauh lebih tinggi dibanding instrumen investasi konvensional.

Elsan sudah tertarik berinvestasi Bitcoin sejak 2014 lalu, saat mata uang digital itu belum begitu booming di Tanah Air. Harganya kala itu hanya Rp4 juta per Bitcoin. Ia kala itu menginvestasikan modalnya senilai Rp50 juta.

“Sekarang aset saya sudah Rp1,5 miliar,” kata mantan mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jogja itu kepada Harian Jogja, Kamis (21/12/2017). Per hari, Elsan bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp15 juta hanya dengan aktif memantau komputer. Saat ini, nilai satu Bitcoin di Indonesia sudah menyentuh angka lebih dari Rp250 juta. Saat ini, investasi Bitcoin memang sedang moncer.

Keuntungan sebanyak itu jauh melebihi gajinya sebagai karyawan di perusahaan teknologi di Singapura. “Sebenarnya banyak [orang Indonesia] yang kaya karena Bitcoin ini. Kita sudah enggak ada lagi lahan untuk investasi karena dikuasai pemodal besar,” tutur dia.

Ia mengibaratkan tren investasi Bitcoin saat ini seperti bisnis batu akik yang sempat booming beberapa tahun lalu. Saat ini, investasi Bitcoin juga booming seperti masa kejayaan batu akik.

Ledakan investasi ini kata dia karena nilai BTC yang telah menyentuh angka ratusan juta rupiah. “Itu seperti hukum pasar, karena semakin banyak permintaan barangnya [Bitcoin] tapi barangnya sedikit makanya harganya melonjak,” paparnya lagi.

Ia pun tak memungkiri, instrumen investasi apa pun pasti akan mengalami pasang surut seperti halnya batu akik. Bitcoin pun demikian. Sebelum booming 2017, nilai Bitcoin kata dia juga pernah turun. “Bitcoin pernah di angka Rp12 juta dan turun ke Rp3 juta, Januari kemarin Rp14 juta sekarang Rp250 juta, kalau pun turun ke angka Rp3 juta atau bahkan Rp12.000 enggak masalah,” lanjutnya.

Elsan tak khawatir soal kontroversi Bitcoin selama ini. Menurutnya, investasi digital itu bahkan hampir tidak mungkin terjadi penipun, karena segalanya diatur secara online dan transparan.Transaksi Bitcoin kata dia menggunakan sistem blockchain, dimana setiap transaksi [secara online terekam] tidak dapat dihilangkan atau disebut open source. Jumlah Bitcoin yang beredar di seluruh dunia pun kata dia dapat terpantau setiap hari jumlahnya.

Saat ini, jumlah Bitcoin yang beredar di seluruh dunia baru sekitar 16 juta Bitcoin. “Jumlah Bitcoin itu terbatas tidak dapat dikurangi atau dilebihkan,” lanjutnya lagi.

Transparansi lainnya kata dia juga dilihat dari sistem transfer uang. Kapan pun pengguna hendak menarik modal atau asetnya tinggal klik di komputer atau gadget, maka saat itu juga uang akan masuk di rekening pribadi.

“Yang menipu itu bank, misal kita ingin tarik uang Rp100 miliar, apa bisa langsung ditarik saat itu juga atau di mana saja,” imbuhnya lagi. Penipuan yang dikhawatirkan masyarakat menurutnya terjadi karena pengguna BTC memilih menginvestasikan modalnya melalui perantara alias tidak bermain sendiri. Namun si perantara justru membawa kabur uang investasi tersebut. Sedangkan secara sistem menurutnya hampir tidak mungkin terjadi penipuan selama pengguna bermain sendiri.

Elsan mengaku merogoh kocek senilai Rp20 juta hanya untuk mengikuti training investasi Bitcoin selama empat jam. Kuncinya kata dia, siapapun yang terjun ke investasi harus mendapat edukasi. Terkait larangan Bitcoin di Indonesia menurutnya tidak jadi persoalan.

“Yang dilarang itu Bitcoin sebagai alat pembayaran, tapi kalau sebagai instrumen investasi enggak dilarang. Kalau pun juga dilarang enggak masalah, kan kami bisa gabung ke Bitcoin di negara lain secara online. Siapa yang bisa mencegah,” tutur dia.

Pengguna Bitcoin lainnya Erik mengatakan, saat ini anggota Bitcoin di Indonesia sudah mencapai lebih dari 700.000 orang. Investasi ini semakin diminati karena tidak butuh modal banyak. “Kalau pun punya uang Rp100.000 juga bisa tinggal buka akun. Artinya koin yang kita miliki nilainya nol koma nol nol sekian persen dari total satu bitcoin. Jadi keuntungan yang di dapat juga menyesuaikan. Semakin besar modal makin besar keuntungan, makin kecil ya kecil juga,” papar Erik.

Pengguna kata dia bisa memilih dua jenis investasi. Apakah berupa investasi berjangka yakni hanya menempatkan modal dan mendiamkannya dalam jangka waktu tertentu baru ditarik, atau berinvestasi dengan jual beli di pasar Bitcoin kapan pun pengguna mau, dengan mengambil untung dari margin penjualan.

Sejatinya kata Erik pemerintah terlambat merespons perkembangan dunia digital tersebut sama halnya ketika pemerintah terlambat merespons perkembangan taksi online. “Dunia digital memberikan ragam investasi kenapa harus dilarang. Kalau memang pemerintah tidak mau rugi, kenakan saja pajak dari setiap transaksi. Mending diatur dari pada investasi Bitcoin orang Indonesia justru lari ke negara lain,” ujar dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online