Bos Summarecon Diduga Beri Rp1,5 Miliar untuk Urus SHGB
KPK mengungkap dugaan pemberian Rp1,5 miliar dari Bos Summarecon untuk pembukaan blokir dan pemecahan SHGB di Kabupaten Bogor.
Sejumlah negara sister city akan hadir.
Harianjogja.com,SLEMAN--Pada September mendatang, Kabupaten Sleman akan menjadi tuan rumah sebuah event internasional. Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY akan mengadakan kegiatan Jogja International Scout Camp (JISC)
Bekerja sama dengan Pemda DIY, kegiatan JISC ini akan dilangsungkan pada tanggal 3-8 September di Kompleks Candi Prambanan dan sejumlah camp ground di wilayah DIY.
"Program ini rencananya akan bekerja sama dengan negara-negara yang punya ikatan sister city dengan DIY," Ujar Y. Sari Murti, ketua panitia program JISC, Rabu (10/1/2018)
Kegiatan yang mengambil tema Jogja dor Indonesia and Beyond for Peace and Harmony ini rencananya akan diikuti oleh 4.500 anggota Pramuka dari seluruh daerah di Indonesia.
"Saya beraharap kegiatan ini dapat menghasilkan anggota Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang humanis dan cinta perdamaian. Serta dapat mengamalkan proses lurus ilmu dan liru kawruh budaya di Jogja," Lanjut Sari. Kegiatan ini nantinya akan dihadiri beberapa negara sister city seperti Korea Selatan dan Jepang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK mengungkap dugaan pemberian Rp1,5 miliar dari Bos Summarecon untuk pembukaan blokir dan pemecahan SHGB di Kabupaten Bogor.
Pencarian perjalanan 7–13 hari sebelum keberangkatan naik 25%. Simak pilihan wisata spontan di Antalya, pesisir Aegea, hingga Bodrum, Turki.
Pemkab Sleman menyalurkan hibah Rp166,5 juta kepada 32 LKS pada 11 Juni 2026. Dana diberikan melalui rekening masing-masing lembaga.
Mendag Budi Santoso meninjau harga bahan pokok di Pasar Potrojayan Sleman dan menekankan pentingnya menjaga harga wajar bagi produsen dan konsumen.
Leica Al-Humaira Lubis meraih perunggu Asian Games 2026, sementara Kanurian Al Ghozi menembus final Men’s 10m Air Rifle.
Keluarga mengenang Den Baguse Ngarsa sebagai sosok serius, jarang mengeluh sakit, dan sehari sebelum meninggal masih sempat ngangkring.