Hari Pertama Bulan Tertib Jalan, Satpol PP DIY Bongkar Ratusan Reklame Ilegal
Petugas Satpol PP DIY menertibkan setidaknya ratusan buah sampah visual berupa spanduk, banner, dan rontek tak berizin di tiga titik.
Sejumlah peserta Sekolah Perajin Bambu di Dusun Gentan, Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, mendengarkan pemaparan materi tentang kerajinan bambu, Kamis (12/4/2018).Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, SLEMAN—Rosse Bambu bekerja sama dengan Dompet Dhuafa mengadakan Sekolah Perajin Bambu selama setahun. Program ini diadakan sebagai bentuk regenerasi perajin bambu.
Ketua Kelompok Perajin Bambu Rosse Bambu, Dusun Gentan, Desa Margoagung, Kecamatan Sayegan, Marjuni, mengatakan Sekolah Perajin Bambu merupakan salah satu upaya regenerasi perajin bambu. Program ini akan memberikan tambahan keterampilan para peserta yang hasilnya akan membuat perajin bambu bisa meningkatkan kualitas ekonominya.
Sekolah Perajin Bambu rutin diadakan dua hari dalam sepekan yaitu Jumat dan Sabtu. Saat ini sudah ada 15 peserta Sekolah Pengerajin Bambu. "Kami di sekolah ini fokus ke produk yang kecil-kecil seperti cendera mata dan produk kecil lainnya," kata Marjuni saat ditemui Harian Jogja, Kamis (12/4/2018).
Menurut Marjuni, di Sleman potensi perajinan bambu sangat menjanjikan. "Bambu sebagai hasil hutan menjadi unggulan di Sleman, namun kini karya-karyanya mulai terpinggirkan, oleh karena itu harus muncul inovasi baru dari para perajin agar bisa meningkatkan nilai ekonomi," kata Marjuni.
Sekolah Perajin Bambu dimulai pada Juli 2017. Pemateri yang dihadirkan tiap pekan berbeda-beda tergantung materi yang disampaikan. "Harapannya lulusan sekolah ini akan lebih produktif lagi, selain itu Rosse Bambu memberi peluang kepada para alumni apabila ingin masuk sebagai perajin di Rosse Bambu atau bisa juga membuat usahanya sendiri," ujarnya.
Pengusaha kerajinan kayu dari Valkiara yang menjadi salah satu pemateri di Sekolah Perajin Bambu, Hiro Prapantoro, mengatakan bambu yang melimpah di Sleman harus dimanfaatkan dengan baik. "Tidak hanya untuk produk-produk besar seperti mebel, tetapi bisa dimanfaatkan untuk membuat produk-produk kecil seperti merchandise," katanya kepada Harian Jogja, Kamis.
Menurutnya, produk-produk kecil olahan dari bambu bisa mempunyai nilai ekonomi yang menjanjikan jika diolah dengan inovatif. "Produk-produk kecil itu bisa masuk ke gaya hidup dengan pasar anak muda. Produk-produk seperti ini nilai ekonominya juga cukup tinggi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Petugas Satpol PP DIY menertibkan setidaknya ratusan buah sampah visual berupa spanduk, banner, dan rontek tak berizin di tiga titik.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026. Menkeu Purbaya menyebut konsumsi rumah tangga jadi penopang utama daya beli.