Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo [sweater hitam, berkacamata, berpeci] saat menemui warga penolak NYIA, Selasa (17/4/2018) malam./ist
Harianjogja.com, KULONPROGO- Pemerintah Daerah Kulonprogo dan PT Angkasa Pura I (Persero) akan terus mencoba langkah persuasif dan dialog bersama, dalam menyikapi masih adanya penolakan dari warga penolak New Yogyakarta International Airport (NYIA).
Juru Bicara Proyek NYIA PT AP I, Kolonel Pnb Agus Pandu Purnama menuturkan ruang dialog akan terus dibuka dan disediakan oleh PT AP I bersama Pemerintah Daerah dalam mencari solusi atas penolakan-penolakan warga. Karena pihaknya berharap tidak ada friksi [perpecahan] yang muncul akibat perbedaan pandangan dalam menyikapi pembangunan NYIA.
Namun, PT AP I berharap agar warga secara sadar segera meninggalkan rumah atau lahan mereka dan mengambil barang-barang mereka yang sekiranya masih bisa dimanfaatkan.
Disinggung perihal penolakan warga atas 71 surat SP III yang diserahkan oleh PT AP I kepada warga, ia berpegang pada prinsip bahwa kewajiban AP I adalah memberikan SP dengan tahapan-tahapan sesuai prosedur, mulai SP I, SP II dan SP III.
Bila ada penolakan, maka langkah yang diambil adalah membuatkan berita acara dan menyusun dokumen. Selain itu, memastikan SP III yang dititipkan kepada Pemdes atau kerabat penolak, tetap tersampaikan.
"Setelah ini [setelah SP III] kami melaksanakan pengosongan. Ini upaya kami dan AP I dan aparat, dalam menjalankan langkah tegas dan terukur. Tanpa mengesampingkan kebutuhan masyarakat," terangnya, Kamis (26/4/2018).
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengungkapkan, akan kembali menemui warga yang masih bertahan dan menolak pembangunan NYIA. Langkah itu akan diambil pada malam ini atau Jumat (27/4/2018). Hasto tidak patah arang, kendati pertemuan sebelumnya ia mendapati kenyataan warga berkukuh pada sikap mereka. Dalam pertemuan berikutnya, sedianya ia akan upaya-upaya yang akan dilakukan Pemkab untuk membantu warga yang harus pindah.
Ia tidak mempersoalkan perihal kedatangan atau apa yang ia sampaikan kali ini akan ditolak atau diterima oleh warga, yang penting adalah ia menjalin silaturahim dan berusaha menyampaikan niat dengan baik. Karena dalam pandangan Hasto, menemui warga untuk berdialog tersebut merupakan proses yang harus dilakukan.
“Tentang diterima atau tidak, itu urusan nomer tiga lah. Kalau kami belum sempat menyampaikan itu terus mereka [warga] digusur paksa, saya bagaimana. Wong itu warga kami. Ya kami berharap mereka juga dibukakan hatinya,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.