Ini Penyebab Riset Kesehatan di Indonesia Tidak Bisa Maksimal

Salsabila Annisa Azmi
Salsabila Annisa Azmi Senin, 07 Mei 2018 14:37 WIB
Ini Penyebab Riset Kesehatan di Indonesia Tidak Bisa Maksimal

Sosialisasi Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2018 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta hari ini Senin (7/5/2018)./Bisnis Indonesia-Eko Sutarno

Harianjogja.com, SLEMAN-Kalbe Farma menggelar sosialisasi program Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2018 (RKSA 2018) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta hari ini, Senin (7/5/2018).

Dalam acara tersebut, Herawati, perwakilan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menilai hilirisasi hasil riset bidang kesehatan belum optimal.

Hal itu karena ketidakselarasan tiga aspek, yaitu industri, peneliti, masyarakat. Dia berpesan jangan sampai industri, peneliti dan masyarakat jalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan sinergisme ketiganya.

Herawati mengatakan hendaknya peneliti melihat kebutuhan masyarakat dan upaya kesehatan apa yang belum optimal sebelum menciptakan suatu penelitian.

Ketika penelitian sudah jadi, lanjutnya, penelitian harus sesuai dengan persyaratan registrasi yang disediakan BPOM sehingga tidak ada hambatan izin edar.

Herawati mengatakan tahapan dapat dilihat di web BPOM. Menurut dia, ada industri prioritas yang dikembangkan pemerintah yaitu pangan, farmasi, kosmetik, dan alat kesehatan.

"Dalam Permenkes nomor 17 tahun 2017 itu merupakan roadmap pengembangan kami dalam biofarma, vaksin, obat-obatan herbal dan chemical atau bahan baku obat," kata Herawati.

Inovasi Aplikatif

Sementara itu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof dr Amin Soebandrio menilai inovasi yang ideal adalah inovasi yang aplikatif, siap diserap pasar dan siap dikomersialisasi. Untuk itu, di mengemukakan rumus 3 N. “Ada tiga prinsip inovasi yaitu Niteni, Niroake, dan Nambahake.”  

Ketiganya merupakan kata dalam bahasa Jawa. Niteni artinya mencermati, niroake artinya meniru, dan nambahake artinya menambahkan.

Amin mengingatkan, para periset perlu menyadari tiga proses yang harus dilalui dalam penelitian.  Yang Pertama, fundamental research di mana banyak ketidakpastian. Ini biasanya dibiayai pemerintah.

Yang kedua, translation research di mana belum pasti akan dibiayai siapa, ketiga clinical research di mana perusahaan-perusahaan sudah lebih tertarik untuk komersialisasi di pasar.

“Tahap tersebut harus dipahami agar penelitian tidak jatuh dalam the valey of death,” ujar Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman tersebut.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan penelitian yaitu bahan yang mudah diakses, teknologi yang mudah diakses dan Amin mengatakan yang terpenting adalah akses ke industri dan ke pasar.

"Banyak peneliti di Indonesia yang merasa penelitiannya bagus tapi ternyata akses ke industri susah," kata Amin.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online