Duh, BPPTKG Sulit Prediksi Merapi, Kenapa?

I Ketut Sawitra Mustika
I Ketut Sawitra Mustika Kamis, 24 Mei 2018 12:20 WIB
Duh, BPPTKG Sulit Prediksi Merapi, Kenapa?

Gunung Merapi Waspada, Selasa (22/5/2018)./Harian Jogja-Desi Suryanto

Harianjogja.com, JOGJA--Dibanding kejadian pada 2002 dan 2006, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kini jauh lebih kesulitan dalam menentukan status Gunung Merapi.

Pasalnya erupsi di dua tahun itu tidak disertai dengan rentetan letusan freatik.
"Sedangkan sekarang, ada [letusan] freatik. Semoga setelah fase freatik berhenti, status bisa ditetapkan dengan mudah," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Kamis (24/5/2018).

Menurut Hanik, letusan pada Selasa (24/5) dini hari bukan merupakan letusan freatik. Letusan dengan durasi empat menit dan tinggi kolom asap mencapai 6.000 meter itu masih disebabkan oleh gas. Bedanya, gas yang ini bersumber dari magma.

"Sedangkan letusan freatik terjadi karena adanya interaksi antara air dan magma, yang kemudian menghasilkan uap air bertekanan tinggi," kata dia.

Tak hanya itu, letusan tersebut juga ditandai dengan adanya pijar warna merah, yang asalnya dari magma. Meski begitu, Hanik mengatakan proses ini belum bisa dikategorikan magmatis, karena sifatnya masih akumulasi gas.

"[Gunung] Merapi kan terkenal sebagai gunung dengan suhu sangat tinggi. Yang tinggi itu Kawah Woro. Kalau aktivitas naik bisa 700 [derajat Celcius], bahkan pernah 800. Ini menunjukan Merapi punya lava dengan densitas relatif cair, sehingga pada saat keluar gasnya masih panas," jelas Hanik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online