Petani mengamati keindahan Gunung Merapi dari area persawahan di Wukirsari, Sleman, belum lama ini. Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, SLEMAN—Puncak musim kemarau berpotensi memicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Untuk mencegah terjadinya kebakaran, warga yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi kini mulai melakukan sejumlah antisipasi.
Potensi terjadinya kebakaran lahan dan hutan dapat terjadi seiring dengan terjadinya gesekan antara dahan dan ranting pohon yang mayoritas sudah kering saat kemarau. Hal itu disadari oleh masyakarat yang tinggal di lereng Merapi yang mengandalkan mata pencarian dari lereng Merapi.
Ketua Paguyuban Masyarakat Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Badiman, mengaku melakukan langkah antisipasi dengan menjaga kelestarian hutan dan lahan di lereng Gunung Merapi "Warga ikut menjaga kelestarian hutan agar tidak terjadi kebakaran," kata dia, Selasa (7/8/2018).
Menurut Badiman, masyarakat selama ini banyak yang bekerja sebagai petani serta peternak sapi. Mereka menggantungkan hidup dari alam di kawasan Merapi, karena mereka mencari pakan ternak dari hutan di lereng Merapi. "Warga mencari rumput untuk pakan ternaknya ke hutan di lereng Gunung Merapi," katanya. Kebakaran lahan di lereng Gunung Merapi akibat musim kemarau pernah terjadi. Pada 2015, sedikitnya 305 hektare lahan di wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) hangus terbakar.
Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Djoko Budiyono, menyatakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus ini. Terkait dengan puncak musim kemarau, jajarannya mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai ancaman bencana yang bisa terjadi. "Warga harus menghindari dan mengantisipasi terjadinya kebakaran mengingat risiko tingkat kekeringan cukup tinggi," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.